Batu Basiha, Keunikan Sisa Letusan Gunung Toba

Salah satu batu andesit Batu Basiha di Sibodiala – Balige (Foto: Rani R Hutapea)

BatakIndonesia.com, Tobasa. Batu Basiha berada di dataran puncak pebukitan Sibodiala, Desa Aek Bolon Julu, di lereng tenggara Dolok (Gunung) Tolong, kurang lebih 5 kilometer di barat daya pusat kota kecamatan Balige, ibukota Kabupaten Tobasa, Sumatra Utara.

Semula, warga sekitar menganggap bongkahan-bongkahan batu besar itu hanya batuan alam biasa, dan ada pula yang mengkaitkannya dengan cerita legenda. Sangat di luar dugaan mereka, Batu Basiha ternyata sangat istimewa. Ia melengkapi bukti adanya letusan Gunung Toba, letusan gunung berapi yang amat dahsyat, begitu dahsyatnya sampai disebut supervulcano: Supervulcano Toba.

Batu Basiha adalah sekumpulan bongkahan batu yang unik, bentuknya serupa balok dengan lebar dan panjang bervariasi (lihat foto). Bebatuan itu tampak bertumpuk terpisah di beberapa tempat, sebagian utuh dan sebagian lainnya ditumbuhi semak belukar.

Kelompok batu andesit Batu Basiha di Sibodiala – Balige di lokasi berbeda. Sebagian lainnya, kemungkinan besar masih terdapat di bawah permukaan tanah. (Foto: Rani Rianita Hutapea) 

Batu Basiha terdiri dari jenis batuan andesit. Batuan andesit adalah batuan yang terbentuk dari hasil pendinginan magma saat mengalir dan membeku di permukaan membentuk lava. Strukturnya kekar kolom (columnar point) yaitu berbentuk kotak atau prisma seperti susunan batu yang tertata rapi buatan manusia, padahal, itu adalah murni buatan alam. Di Indonesia, sebagai wilayah bumi yang dilalui cincin api, sebaran batu andesit banyak ditemukan dan yang spektakuler adalah yang sekarang dikenal sebagai Situs Gunung Padang di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.

Selama ini Batu Basiha dianggap keramat sehingga keberadaannya masih utuh alias tidak diganggu tangan manusia. Seperti diketahui, pada zaman modern batu andesit banyak ditambang karena memiliki nilai ekonomis tinggi, misalnya untuk keperluan bahan bangunan untuk memenuhi selera back to nature di kalangan orang kaya. Sebelumnya batu andesit banyak dipakai untuk bangunan-bangunan megalitik seperti candi dan piramida. Begitupun pada zaman prasejarah, batu andesit juga sangat populer sebagai bahan sarkofagus (peti kubur), punden berundak, lumpang, meja, dan lain-lain.

BACA JUGA:   Partuha Maujana Simalungun Menyatukan Batak Diaspora di Sumsel

Nama Batu Basiha sendiri dibuat sedemikian rupa karena mirip basiha (tiang rumah tradisional Batak). Bahkan, basiha disebut-sebut adalah kependekan dari “batu sian hau” (batu dari kayu). Konon, menurut legenda, Batu Basiha sebelumnya adalah tumpukan tiang kayu yang akan dipakai sebagai tiang rumah. Namun, karena “penguasa alam mistis” di sana tidak berkenan, tumpukan kayu itu berubah menjadi batu akibat disambar petir.

Lokasi Batu Basiha, di sebelah tenggara Dolok Tolong Balige. (Foto: Antoni Antra Pardosi)

Batu Basiha diperkirakan sudah berusia ratusan tahun, pra letusan Gunung Toba. Menurut penelitian Knight pada tahun 1986 serta Chesner dan Rose pada tahun 1991, letusan Gunung Toba, yang sekarang membentuk Danau Toba berlangsung tiga kali. Letusan pertama terjadi kurang lebih 840.000 tahun silam. Letusan ini menghasilkan kaldera (kawah besar) yaitu Kaldera Porsea. Letusan kedua terjadi 450.000 tahun silam menghasilkan Kaldera Haranggaol. Kemudian, letusan ketiga yang terjadi 74.000 tahun silam menghasilkan Kaldera Sibandang. Letusan ketiga merupakan yang terdahsyat sepanjang sejarah, membuat bumi seperti mendekati kiamat.

Sejauh ini sudah ditemukan 45 situs geologi (geosite) yang tersingkap sebagai bukti letusan Gunung Toba. Di antaranya, selain Batu Basiha adalah Batu Gantung Parapat, air terjun Taman Eden Lumbanjulu, Air Tejun Situmurun Lumbanjulu, Liang Sipege Balige, Aek Sipangolu Bakkara, serta geosite lainnya di semenanjung Uluan, Tele, Bakkara, Muara, Sipisopiso, Haranggaol, Paropo, Sibaganding, Siregar Aek Nalas, dan lain-lain. Batu Basiha dan yang lainnya merupakan geosite yang dilindungi sebagai bagian dari Geopark Nasional yang masih menanti pengakuan sebagai Geopark Dunia oleh UNESCO.


Letak Lokasi Batu Basiha – Balige (Disain: Antoni Antra Pardosi)

Hingga sekarang, ibarat angin, perhatian orang terhadap Batu Basiha masih “semilir” atau “sepoi-sepoi basah”. Pemkab Tobasa, dalam hal ini Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Tobasa sudah memasang plakat permanen di sana, pertanda bahwa geosite tersebut penting sebagai milestone geologi dunia. Jalan setapak juga sudah dibangun, meski tidak menjangkau seluruh kawasan.

BACA JUGA:   Himbauan Tidak Menjual Tanah di Kawasan Danau Toba

Saya berpikir, alangkah baiknya apabila penelitian yang lebih intens dilakukan lagi di Batu Basiha. Kemungkinan besar masih terdapat tumpukan batu sejenis yang masih terkubur di bawah tanah dan semak belukar. Lokasi itu luas, dan masih terjaga dari aktivitas masyarakat. (Antoni Antra Pardosi)

Batak Indonesia (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Facebook (0)

G+ (1)