Batu Manumpak, Pesona yang Terselip di Pedalaman Tapanuli

BatakIndonesia.com. Kawasan Habinsaran lama di Kabupaten Tobasa, Sumatera Utara (Kecamatan Habinsaran atau Parsoburan, Kecamatan Borbor, dan Kecamatan Nansau) terletak di sebuah hamparan yang amat luas (761, 865 km2) di kaki Pegunungan Bukit Barisan. Dulu, bahkan hingga kini orang-orang masih terbiasa menyebutnya Parsoburan.

Orang Toba menyebut penduduk Parsoburan sebagai parnadolok atau orang gunung. Cap, yang dulunya miring karena semata ditujukan kepada orang-orang udik yang jauh tertinggal dari segala macam bentuk kemajuan. Perlahan cap itu kian memudar seiring perkembangan zaman, terutama semakin pesatnya pembangunan infrastruktur di kawasan Parsoburan serta potensi kawasan tersebut sebagai salah satu pusat ekonomi di bidang pertanian, perkebunan, dan sumber pembangkit listrik tenaga air.

Rangkaian Pegunungan Sihabuhabu. Dolok Batu Manumpak tampak di sebelah kiri dengan puncak batunya yang menjulang.

Sebutan orang gunung memang tidak salah. Kawasan Parsoburan dan sekitarnya dikelilingi banyak gunung dan bukit berlapis serta masih berhutan. Di antaranya, ada dua gunung yang sangat terkenal karena puncaknya lebih sering tertutup awan ketimbang diterpa sinar matahari. Pertama, Dolok Surungan (1.360 m dpl) di sebelah utara. Hutannya masih asri ditumbuhi berbagai vegetasi tropis dan aneka jenis hewan langka seperti harimau (Panthera tigris), rusa, (Cervidae), orangutan (Pongo tapanuliensis) dan tapir (Tapirus). Kawasan ini masuk kawasan suaka margasatwa yang dilindungi.

Kedua, Gunung Sihabuhabu (2.300 m dpl) yang berdiri gagah di jajaran bukit dan gunung berlapis yang membentengi kawasan di sebelah timur hingga ke selatan. Gunung Sihabuhabu merupakan gunung tertinggi ketiga di Sumatera Utara setelah Gunung Sibuatan (2.457 m dpl) dan Gunung Sinabung (2.451 m dpl). Di kaki pegunungan ini terdapat tanaman endemik yang amat kesohor yaitu andaliman (Zanthoxylum acanthopodium). Di sini. termasuk di lereng Gunung Surungan dan pegunungan sekitarnya juga banyak ditemukan tanaman endemik haminjon atau kemenyan (Styrax Paralleloneurum).

Pemukiman Desa Batu Manumpak. Puncak Dolok Batu Manumpak terlihat di kejauhan.

BATU MANUMPAK

BACA JUGA:   FBBI Mendukung Program Presiden Jokowi Menyiapkan Taman Bacaan di Bonapasogit

Di rangkaian pegunungan Sihabuhabu terdapat sebuah gunung yang ukurannya lebih kecil, namanya Dolok Batu Manumpak. Kakinya landai menyentuh hamparan. Ketinggiannya ditaksir antara 800 – 900 m dpl. Di lambung gunung itu terdapat Desa Batumanumpak, masuk wilayah Kecamatan Nansau. Gunung dan desa ini berkisar 5 kilometer dari Pantil, ibukota Kecamatan Nansau dan kurang lebih 20 km dari Pasar Parsoburan, ibukota Kecamatan Habinsaran. Jalan ke sana, dari persimpangan jalan Parsoburan – Nansau yang sudah hotmiks, sebagian besar masih jalan tanah, makadam, dan beberapa ratus meter berupa rabat beton. Pada umumnya, penduduk Batu Manumpak terdiri dari kaum marga Sipahutar yang sudah berdiam di sana selama belasan generasi. Mereka hidup bertani, menanam padi, kopi, palawija, dan kemenyan.

Close up puncak Batu Manumpak.

Keunikan gunung Batu Manumpak terlihat dari puncaknya yang serupa stupa raksasa dari jenis batu padas dengan ketinggian kurang lebih 200 meter dari permukaan. Puncak itu tampak mencuat dari segala arah. Barangkali, karena sedemikian rupa itulah yang membuat orang dari zaman dulu menamainya Batu Manumpak (manumpak dalam bahasa Batak: membantu, ada juga mengartikannya memberi berkat). Meski demikian tidak ada legenda khusus atau cerita angker yang dilekatkan penduduk terhadap puncak batu tersebut.

Di dekat puncak itu masih terdapat sejumlah bongkahan batu yang berdiri sejajar serupa tiang raksasa. Di lereng puncak tumbuh pepohonan tropis dari mana sesekali terdengar suara orangutan bersahut-sahutan. Menurut penduduk, di kawasan itu masih terdapat harimau dan sejauh ini tidak pernah mengusik ketenangan penduduk.

POTENSI BATU MANUMPAK

Saya selalu menyempatkan waktu ke Batu Manumpak manakala pulang kampung ke Parsoburan. View di sini sangat indah, dari mana kita bisa melepas pandang ke penjuru hamparan Habinsaran dan Dolok Surungan di kejauhan. Suasana alam pegunungan dan pedesaan yang masih asri, penduduknya sangat ramah, membuat saya betah berlama-lama.

BACA JUGA:   Dua Homestay di Desa Sigapiton Jadi Percontohan

Pemerintah Kabupaten Tobasa tampaknya kurang sungguh-sungguh menjadikan kawasan Batu Manumpak sebagai objek wisata alternatif. Dua bangunan permanen untuk tempat santai yang dibangun pada era Bupati Kasmin Simanjuntak di lambung gunung tampak mubazir. Menurut penduduk, kawasan Batu Manumpak sangat jarang dikunjungi orang luar.

Dari bentuk dan ketinggiannya, puncak Batu Manumpak sangat cocok untuk olahraga alam bebas panjat tebing (rock climbing). Selama ini, yang pernah mendaki puncak Batu Manumpak dan tiba di atap hanya anak-anak remaja sekitar. Sungguh adu nyali yang memicu adrenalin karena mereka tidak menggunakan peralatan keselamatan layaknya para pemanjat tebing profesional, hanya mengandalkan kekuatan otot tubuh dan konsentrasi tinggi. Mereka merangkak memutar mencari pijakan kaki pada dinding yang amat terjal, juga dibantu oleh batang dan akar kayu yang tumbuh liar. Di atas atap puncak itu, menurut mereka terdapat landasan yang permukaannya datar.

Peta lokasi Batu Manumpak di Kecamatan Nansau, Kabupaten Tobasa.

Dari bentuk dan strukturnya, besar kemungkinan puncak Batu Manumpak dan bebatuan kekar di sekelilingnya adalah batu andesit sisa letusan Gunung Toba beratus ribu tahun yang silam. Ketika penulis mengutarakannya kepada Ir Gagarin Sembiring, Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Sumatera Utara, ia tidak mau berspekulasi kecuali menyebut perlu dilakukan penelitian. Gagarin mengatakan, penelitian geologis terkait letusan Gunung Toba dalam rangka Geopark Dunia sejauh ini hanya dilakukan di kawasan kaldera (kawah besar) yang membentuk perairan Danau Toba. Dus, tidak termasuk di dalamnya Batu Manumpak. (Teks dan foto: Antoni Antra Pardosi)

Batak Indonesia (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Facebook (0)

G+ (0)