Berkenalan dengan “Lady’s Finger”

BatakIndonesia.com, Jakarta – Namanya okra. Barangkali, jenis tanaman ini masih asing bagi pembaca. Ya, okra memang  termasuk langka di Indonesia meski sudah dibudidayakan sejak seratusan tahun silam. Namun, belakangan okra sudah mulai dilirik sebagai komoditas bernilai ekonomis khususnya di Pulau Jawa. Di pasar-pasar tradisional dan supermarket, okra sudah diperjualbelikan. Harganya di pasar tradisional bervariasi antara Rp 2.500 – Rp 3.500. Tentu, di supermarket harganya lebih tinggi lagi.

Sebagai sayuran, okra biasanya dijadikan menu dengan cara ditumis dan disop, juga sebagai lalapan. Tanaman ini termasuk sayuran hijau yang kaya serat, mineral, dan vitamin. Okra diminati bukan hanya karena kandungan nutrisinya yang tinggi, lebih utama adalah sederet khasiatnya untuk mengobati berbagai macam penyakit.

Okra sangat rendah kalori. Selain itu, tanaman ini juga tidak mengandung lemak jenuh atau kolesterol. Selain serat, okra juga mengandung glutation. Serat sangat penting bagi tubuh karena dapat mencegah konstipasi (susah buang air besar), obesitas, hiperkolesterolemia (kolesterol tinggi), diabetes, dan kanker kolon (usus besar.

Khasiat lainnya adalah mencegah dan mengobati kanker rongga mulut, asam urat, sembelit, memperkuat tulang dan gigi, melindungi paru-paru, menjaga kesehatan mata dan kulit, menurunkan resiko cacat pada janin, menjaga sistem kekebalan dan keseimbangan tubuh, serta membantu metabolisme energi. (Selengkapnya mengenai cara pemanfaatan ini dapat Anda tanyakan ke “Mbah Google”).

“LADY’S FINGER”

Okra punya nama Latin Abelmoschus Esculentus, termasuk tanaman genus Hibiscus dari famili Malvaceae (kapas-kapasan). Disebut juga tanaman berbunga abadi. Tingginya mencapai satu meter lebih, berbatang tunggal, dan daunnya mirip tanaman jarak. Tanaman ini mengeluarkan bunga berwarna putih kekuning-kuningan keluar dari celah cabang kemudian berubah menjadi buah.

BACA JUGA:   Delapan Hal Harus Mampu Diselesaikan CaGubSU ke Depan

Buah okra panjangnya belasan sentimeter, tidak menjuntai ke bawah melainkan menjangkau ke atas mengikuti batang. Bentuknya unik, menyerupai jari lentik perempuan sehingga di luar negeri diberi nama “Lady’s Finger.”

Okra bukan tanaman asli Indonesia melainkan tanaman yang berasal dari Benua Afrika. Beda dengan di Indonesia, okra sudah sangat familiar di negara-negara seperti Jepang, Srilangka, Saudi Arabia, Amerika, dan di negara-negara Eropah.

Tanaman okra sangat cocok dibudidayakan di daerah yang memiliki iklim tropis seperti Indonesia. Menanamnya dengan cara ditugal seperti menanam jagung atau kedelai. Bibitnya diperoleh dari biji pada buah yang dikeringkan. Pupuk juga tidak terlalu boros cukup dengan Phonska saja, dan disemprot dengan POC yang dibeli di pasaran atau membuat sendiri untuk menambah nutrisi.

Pada umur 45 hari setelah tanam (hst) okra mulai berbunga dan keesokan harinya sudah mulai membentuk buah. Pada Umur 55 hst sudah bisa dipanen dua hari sekali. Perbatang bisa menghasilkan minimal 10 buah. Pada areal seluar 1 hektar bisa menghasilkan 300 kilogram sekali panen.

Penulis sudah membuktikan asyiknya bertanam okra. Saya, dan istri memperoleh bibitnya dari seorang kerabat. Okra kami tanam di belakang rumah, yang selama ini kami manfaatkan sebagai kebun mini, sebagian lainnya di depan pagar rumah. Okra, sekaligus berfungsi sebagai tanaman hias.

Antoni Antra Pardosi

Batak Indonesia (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Facebook (0)

G+ (1)