Djarot Saiful Hidayat – Sihar Sitorus Sah Ikut Pilkada Sumut

PENCALONAN DJAROT – SIHAR PENUH DRAMA. DI BALIK ITU ADA UPAYA MENGGANJAL DJAROT YANG FENOMENAL. PASANGAN EDY – IJECK TAK LAGI DI ATAS ANGIN.

 

BatakIndonesia.com, Jakarta – Pasangan Djarot Saiful Hidayat dan Sihar Sitorus sah mengikuti Pemilihan Gubernur Sumatera Utara (Pilgubsu) 2018 . Partai pengusung duet ini adalah PDIP dan PPP, masing-masing memiliki 16 dan 4 kursi di DPRD Sumut, sehingga dengan demikian memenuhi persyaratan minimum 20 kursi untuk maju di Pilgubsu 2018.

Kesepakatan koalisi oleh PPP tertuang dalam Surat Keputusan DPP PPP bernomor 329/SK/DPP/W/2018 yang ditandatangani Ketua Umum dan Sekretaris Jenderal DPP PPP yakni Ir Romahurmuziy MT dan H Asrul Sani SH MSi.

Asrul Sani mengakui keputusan mendukung Djarot-Sihar sempat menjadi polemik di internal PPP. DPW PPP Sumut berkeberatan jika DPP PPP mendukung Djarot-Sihar. Penolakan bahkan dilakukan oleh DPW PPP lewat unjuk rasa.

“Tapi pada akhirnya kan kami harus putuskan. Kami sudah sampaikan keputusannya kepada teman-teman di Sumut bahwa DPP karena mempertimbangkan saling menerima dan memberikan dukungan maka kami melengkapi Djarot-Sihar di Sumut,” ujar Arsul di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (10/1/2018), sebagaimana dikutip oleh CNN Indonesia.com.

“Di sisi lain kami secara internal menghormati aspirasi dan juga suara yang disampiakan DPW dan DPC. Kami juga sampaikan kepada teman-teman PDIP bahwa dukungan kami berikan dalam kondisi saat ini teman-teman di sana berkeberatan,” tambahnya.

DRAMATIS

Pencalonan Djarot – Sihar untuk maju di Pilgubsu berlangsung dramatis. Dianalogikan dengan pertandingan sepakbola, kepastian bisa mengikuti Pilgubsu baru ditentukan pada masa injuri time.

Lobi yang dilakukan PDIP kepada PPP sejak Senin hingga Selasa (8 – 9/1) hampir menemukan jalan buntu. Padahal, pada tanggal itu pendaftaran ke KPU Sumut sudah terjadwal, yang berakhir Rabu (10/1).

BACA JUGA:   Peduli Tragedi Kemanusiaan di Danau Toba, 7 Organisasi Masyarakat Batak Bersatu Hati

Sebagai parpol muslim, partai berlambang Ka’bah tersebut hanya mau mendukung Djarot apabila pendamping Djarot adalah dari muslim, dalam hal ini kader PPP. Apabila tidak, maka PPP memilih “golput”, alias tidak memberikan dukungan ke siapa pun kandidat di Pilgubsu. Dengan demikian, pasangan Djarot – Sihar dengan sendirinya gugur di tengah jalan.

Kriteria kemudian diperlonggar, kalau bukan muslim kader PPP, baiklah tokoh Sumut saja, dalam hal ini PPP sempat menawarkan nama petahana Tengku Erry Nuryadi.

Informasi seputar pencalonan Djarot – Sihar simpang siur dan menimbulkan banyak spekulasi. Pada Senin siang (8/1), detik.com, salah satu media online terkemuka mewartakan PPP sudah memberikan dukungan. Namun menjelang tengah malam, media yang sama mewartakan sebaliknya, PPP ternyata belum menyatakan sikap.

Keesokan harinya, Selasa (9/1/) Metro TV sekitar pukul 18.00 WIB memberitakan PPP siap mendukung Djarot – Sihar, namun tak lama berselang dalam acara talk show, saluran televisi tersebut menyatakan Djarot – Sihar belum sah mendapat dukungan PPP.

Sempat berkembang spekulasi di media sosial bahwa yang akan dipasangkan di Pilgubsu adalah sang petahana Tengku Erry Nuryadi – Nurhajizah Marpaung. Beredar kabar Tengku Erry sudah dipanggil Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri ke kediamannya di Jakarta pada hari itu juga. Djarot akan dipasangkan dengan Syaifullah Yusuf di Pilkada Jawa Timur menggantikan Abdullah Azwar Anas yang mengundurkan diri. Ada yang bilang Djarot akan ditarik Presiden Jokowi menjadi Menteri Sosial menggantikan Khofifah Indar Parawansa yang maju di Pilkada Jawa Timur.

Ternyata Djarot berangkat ke Medan, Selasa (9/1) sore. “Untuk Pak Djarot jam 15.00 WIB ini terbang ke Sumut bersama dengan tim kecil untuk persiapan melakukan pendaftaran,” ujar Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto dalam jumpa pers di kantor PDIP, Jl Diponegoro, Jakarta Pusat, Selasa (9/1). Hasto belum menyebut nama Sihar.

BACA JUGA:   Para Pimpinan Sinode Gereja Dicerahkan Soal Sertifikasi Tanah Gereja

Jelang tengah malam Sihar masih menghadap Megawati ke kediamannya. Muncul spekulasi Sihar tidak jadi dipasangkan dengan Djarot ditambah sikap Sihar yang seperti menutup-nutupi sesuatu usai bertemu dengan Megawati. Pendaftaran ke KPU Sumut tinggal sehari. Diberitakan lagi bahwa PPP baru akan mengumumkan pasangan yang akan didukung di Pilgubsu tanpa menyebutkan nama pasangannya.

Meski sudah ada bocoran PPP baru menyatakan dukungannya terhadap Djarot – Siohar pada Rabu pagi (10/1).

PDIP TETAP KONSISTEN

PDIP ternyata tetap konsisten mempertahankan pasangan Djarot – Sihar dan itu tidak mudah. Lobi dan deal dengan PPP sangat melelahkan dan menyedot waktu dan pikiran.
Atas keadaan ini, Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto menduga ada pihak yang mencoba mengganjal pencalonan Djarot Saiful Hidayat maju di Pilgub Sumatera Utara tahun 2018.

“Ada yang mencoba mengganggu kerjasama itu, ada yang khawatir munculnya pak Djarot yang fenomenal,” kata Hasto kepada wartawan di DPP PDI Perjuangan, Jalan Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (9/1/2018).

EDY RAHMAYADI – MUSA RAJEKSHAH TAK LAGI DI ATAS ANGIN

Kontestasi Pilgubsu diperkirakan akan memanas. Munculnya pasangan Djarot – Sihar memastikan pasangan Edy Rahmayadi – Musa Rajekshah (Ijeck) tak lagi berada di atas angin. Pasangan Edy – Ijeck sebelumnya sudah “memborong” 6 partai dengan koalisi besar terdiri dari 60 kursi. Apabila Djarot – Sihar gagal naik panggung, maka pertarungan memperebutkan kursi Sumut 1 jauh lebih mudah karena hanya berhadapan dengan JR Saragih – Ance Selian.

Pilgubsu sendiri akan diikuti 3 kontestan. Pasangan pertama, Edy – Ijeck diusung 6 parpol yang memiliki 60 kursi di DPRD Sumut yaitu PKS, Gerindra, PAN, Golkar, NasDem, dan Hanura. Pasangan kedua, JR Saragih – Ance diusung 3 parpol dengan 20 kursi yaitu Demokrat, PKB, dan PKIP. Sedangkan pasangan ketiga, Djarot – Sihar diusung PDIP dan PPP dengan 20 kursi. (AAP)

Batak Indonesia (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Facebook (0)

G+ (0)