Efisiensitivitas dan Efektivitas dalam Acara Perkawinan Adat Batak

JAKARTA, BatakIndonesia.com — Naposo Batak terkadang menganggap ribet (merepotkan) kalau mereka melangsungkan pernikahan menggunakan adat Batak. Zaman memang makin berkembang dan budaya seringkali “dipaksa” untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman, termasuk budaya Batak. Kita perlu mengembangkan pemikiran yang kritis dalam menjawab tantangan perkembangan budaya tersebut.

Berikut ini pemikiran kritis yang disampaikan Dr Ronsen L. M. Pasaribu yang secara kebetulan menjadi pendamping pada acara perkawinan adat Batak. Berikut tulisan yang disampaikannya.

Pada Jumat (24/8/2018) lalu di Aula HKBP Cijantung, saya didaulat sebagai suhut “pangamai” adat pamuli boru Saria br Pasaribu yang menikah dengan Saut Panjaitan. Mama Saria br Pasaribu, kebetulan sudah berstatus janda, dan tinggal di Parsoburan, dekat dengan Desa Aek Uncim Bonapasogit kami yang bersaudara ditingkat Oppung.

Biaya pernikahan, tentu tidak lagi bisa dibebankan kepada orangtua yang sudah renta, namun dibiayai oleh calon pengantin. Sedangkan ritual adat, menjadi tanggung jawab kami sebagai orangtua, yang berkehendak agar pelaksanaan pernikahan ini sempurna sesuai Undang-Undanag nomor 1 Tahun 1974, sah jika dilaksanakan sesuai dengan agamanya. Sedangkan sisi adat, sah bila dilaksanakan adat na gok (upacara adat penuh).

Acara pernikahan berjalan diawali dengan Marsibuha-buhai pukul 08.00 pagi, dilanjutkan dengan Pemberkatan Nikah pukul 09.00-11.30, dan dilanjut adat na gok mulai pukul 12.00 sampai pukul 15.30 WIB. Total keseluruhan waktu yang dibutuhkan 7,5 jam saja dan ditutup dengan perasaan sukacita dari kedua belah pihak terutama temanten.

Catatan yang tersisa, sebagai bahan evaluasi dan mungkin ada yang menjadi nilai positif yang dapat digunakan oleh orang Batak dalam melaksanakan pernikahan. Berikut ini catatannya:

Pertama, Efektif. Soal penggunaan waktu, semua acara dapat dilaksanakan tepat waktu, pembicaraan yang padat bernas, sistem perwakilan penyampaian kata sambutan atau nasehat kepada penganten. Raja Parhata sepakat dengan agenda yang sudah disusun secara tertulis dan penyampaiannya terikat dengan protokol yang dibuat, orangtua yang juga memberikan mandat penuh kepada suhut (pendamping) dan punguan Ompu Tuan/Juara Monang Pasaribu se Jaboodetabek, sehingga tidak banyak beda tafsir dan silang pendapat.

BACA JUGA:   FBBI Meminta Aparat Menindak Pembunuh Keluarga Nainggolan di Bekasi

Kedua, Efisien. Arti biaya yang diperlukan relatif terjangkau dan murah. Gedung Aula Gereja HKBP Cijantung lantai I, kunci sukses membuat kegiatan efisien. Mengapa? Walau melalui debat di awal, akhirnya semua keluarga sepakat acara dipusatkan di lokasi setempat. Rumah parboru (kami) mengambil tempat di titik lokasi. Paranak semula berencana di Bekasi. Akhirnya sepakat di titik lokasi, begitu juga pemberkatan nikah di gedung yang sama. Dengan biaya yang relatif murah, semua dilakukan di titik yang sama, membuat pergeseran barang dan orang bisa efisien.

Ketiga, terhindar dari kemacetan yang terasa di Jakarta, sebagai biang penyebab susahnya acara di Jakarta akhir-akhir ini. Kita bayangkan rumah laki-laki di Bekasi, rumah paranak di Jakarta Barat, sedangkan tamu undangan berada di seluruh titik Jakarta dan sekitarnya.

Keempat, relatif biaya terjangkau dengan akomodasi keadaan keuangan pihak laki-laki dan perempuan. Ini kata kunci, bahwa ada sama-sama memaklumi, sehingga orangtua baik Raja Parhata dan suhut, tidak memaksakan kehendak agar kemauannya yang terjadi. Artinya kita menyesuaikan kondisi keuangan yang ada.

Kelima, biaya yang relatif tampak dari anggaran besar mahar/boli ni boru/sinamot Rp20.000.000,00 (dua puluh juta), di luar panandaion dan tintin marakkup, ulos herbang semuanya 11 saja tanpa ada ulos holong lainnya. Undangan paranak 125 lembar dan parboru 135 lembar. Kehadiran tulang, bona tulang, tulang rorobot, terwakili sekitar masing-masing 5 KK, tentu tulang lebih banyak dan gambaran ini berlaku di dua pihak. Ruangan 500 kursi, kecil tapi penuh. Kesannya bagus juga.

Keenam, kedua pihak pencoba sesuatu yang didambakan anak muda milenial, sehingga tidak takut melaksanakan pernikahan bagi orang Batak. Acara adat ini terkadang jadi momok bagi mereka, sehingga menunda atau malah nikah dengan diluar batak, hanya karena trauma dengan adat yang rumit dan mahal. Jadi, fleksibilitas pelaksana juga perlu dalam melaksanakan ‘ADAT DO NA MENEK, ADAT DO NASEDANG, dan ADAT DO NABALGA”. Ternyata bisa dilaksanakan di ibukota, Jakarta ini. Terimakasih buat peran Gereja yang menyiapkan Gedung Pertemuannya untuk pernikahan orang Batak.

BACA JUGA:   Reforma Agraria, Jembatan Emas Menuju Tanah untuk Kesejahteraan Rakyat

Ketujuh, mari mempopulerkan cara mandok hata ‘SAHATA MAHAMI DISI’. Ini di budaya adat Tapanuli Selatan, dibiasakan. Tidak mengulang ulang, jika horong boru cukup satu orang, giliran lainnya cukup mengatakan “sahata mahami”. Setiap horong jika mampu menahan diri untuk mewakilkannya, alangkah bagusnya acara bisa cepat tanpa kehilangan makna.

Kedelapan. Ketiadaan orangtua di kota besar, bisa dilakukan orangtua angkat/suhut pendamping orangtua dari kampung serta di dukung oleh Punguan Marga. Melaksanakan pernikahan yang orangtuanya tidak ada, atau bahkan semarga saja wajib ditangani oleh punguan sebab untuk itulah dilaksanakan sebuah punguan marga. Indah sekali, sehingga tak seorang pun kesulitan membuat suatu acara paradaton.

Kesembilan, bagi lembaga Batak Center, biarlah praktek pernikahan ini menjadi referensi, best practice bagi kita sebagai raw model. Tentu tidak ada pesta yang tidak ada kekurangan, namun setiap kekurangan itu kita tutup rapat dan menonjolkan hal positif agar semua senang, bergembira dan bersukacita, sehingga acara terberkati oleh Tuhan Yang Maha Esa.

Kondisi ini pasti berperan positif bagi keluarga yang baru, menjadi orang Batak yang taat nilai Habatakon, tentu tidak lupa nilai agama yang dianutnya.

(Dinarasikan oleh Dr Ronsen L. M. Pasaribu, Ketua Umum FBBI dan salah satu pendiri Batak Center).
Editor: Boy Tonggor Siahaan

Batak Indonesia (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Facebook (0)

G+ (0)