Harap-harap Cemas Memasuki 2018

Catatan: Antoni Antra Pardosi*

BatakIndonesia.com. 2017 telah berlalu. Kita memasuki 2018 dengan sejuta harapan kiranya kehidupan kita ke depan semakin membaik. Tentu rasa was-was masih membayangi, sebab tak sesiapapun yang bisa memastikan apa yang terjadi bahkan sedetik ke depan.

Masih tergenang di bilik ingatan kita beberapa peristiwa besar sepanjang 2017. Dunia masih terus bergolak. Stabilitas keamanan dan perdamaian masih jauh dari harapan. Penggunaan kekerasan (use of force) masih terus berulang. Kejahatan kemanusiaan tak kunjung redam.

Perang, terorisme, ditambah meningkatnya tensi politik dan militer mewarnai ketegangan di penjuru dunia. Perang antarnegara dan perang saudara masih berkecamuk di Teluk Persia, Jazirah Arab dan Timur Tengah. Kawasan Balkan juga masih bergelora. Korea Utara menimbulkan perang dingin lewat intimidasi senjata nuklirnya dari Semenanjung Korea. Ketegangan Israel dan Hamas di Jalur Gaza, Palestina tak kunjung reda. Keadaan semakin memanas tatkala Presiden AS Donald Trump mengklaim Jerusalem sebagai ibukota Israel. Meski pergerakan ISIS dinyatakan sudah lumpuh namun masyarakat dunia masih tetap waswas sebab diperkirakan para militan radikal-ekstrem itu akan memulai aksi teror dunia secara terpisah dan tersembunyi.

Peristiwa sepanjang 2017 benar-benar mencekam. Keamanan dunia terancam dan berada di ambang bahaya.

BENCANA ALAM DAN HILANGNYA RASA AMAN

Di Tanah Air, berbagai peristiwa besar juga terjadi sepanjang tahun 2017. Setelah bencana kekeringan yang panjang, pergantian musim ke cuaca ekstrem mengakibatkan badai dahsyat dan puting beliung, banjir, serta tanah longsor. Bencana alam di mana-mana, bukan saja mengakibatkan kerusakan alam dan harta benda, tetapi juga menelan korban jiwa. Gunung Agung meletus di Bali. Erupsi Gunung Sinabung di Tanah Karo tak hentinya menggoreskan cerita pilu.

Kualitas dan kuantitas tindak kriminal terus meningkat mulai dari pencurian, perampokan, penipuan, dan pembunuhan. KDRT kian ekstrem. Perang antarwarga, tawuran remaja, begal dan geng motor adalah cerita tak berkesudahan. Persekusi atau aksi main hakim sendiri terus memakan korban. Perilaku masyarakat di media sosial semakin tak terkontrol seperti hilangnya kesantunan, menyebarnya hoax, dan ujaran kebencian yang terus berseliweran.

Kejahatan narkoba sudah di luar batas. Dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia, Indonesia tak lagi hanya sekadar negara konsumen tetapi sudah menjadi negara produsen narkoba. BNN telah berbuat banyak namun tak mampu memutus mata rantai peredaran narkoba. Banyak kalangan yang terjerat, seperti artis, pejabat, dan kaum sosialita. Namun jauh lebih banyak dari kalangan produktif bangsa. Kejahatan narkoba kini setara dengan kejahatan kemanusiaan dan dianggap sebagai terorisme baru karena merusak generasi muda dan berbagai sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kaum radikal ekstrem masih terus menebar teror. Target sasaran teroris mulai berubah ke petugas kepolisian. Namun, tidak mustahil sasaran berikutnya adalah masyarakat umum yang tak berdosa. Bom sewaktu-waktu dapat meledak di sekitar kita, menjadikan diri kita korban, termasuk menyakiti bahkan merenggut nyawa orang-orang yang kita cintai.

BACA JUGA:   Para Pimpinan Sinode Gereja Dicerahkan Soal Sertifikasi Tanah Gereja

Korupsi terus membudaya. Banyak koruptor, dari berbagai kalangan ditangkap KPK. Sebut saja pejabat kementerian, hakim MK, anggota DPR dan DPRD, kepala daerah, hakim, jaksa, dan penegak hukum lainnya. Salah satu nama yang jadi buah bibir adalah Setya Novanto. Sebaliknya ada tendensi melemahkan KPK melalui hak angket DPR dan upaya sejumlah anggota parlemen mengkriminalkan pimpinan KPK.

MARAKNYA ISU SARA DAN INTOLERANSI

Gelagat radikalisme, maraknya ideologi khilafah, penggunaan isu SARA, persekusi ormas, dan aksi-aksi intoleransi oleh ormas agama tertentu sangat menyita perhatian publik sepanjang 2017. Salah satu ormas yang dikenakan tindakan tegas oleh pemerintah dengan cara dibubarkan adalah HTI (Hizbut Tahrir Indonesia). UU Ormas yang baru, yang diterbitkan untuk menjaga keutuhan NKRI dan mempertahankan nilai-nilai Pancasila ditolak Fraksi PAN, PKS, dan Gerindra di parlemen serta sejumlah ormas keagamaan. Ditolak, sebab UU Ormas itu disebut-sebut tidak sesuai hukum dan sewaktu-waktu bisa digunakan penguasa untuk bertindak represif.

Sejatinya, UU Ormas diterbitkan untuk menindak ormas-ormas radikal yang bertentangan dengan ideologi Pancasila dan menangkal disintegrasi NKRI. Aksi-aksi intoleran menggambarkan kian memudarnya pengamalan nilai-nilai Pancasila sebagai ideologi bangsa. Kondisi ini berpotensi memicu gesekan di masyarakat sehingga rentan mengancam stabilitas keamanan serta persatuan dan kesatuan bangsa. Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah untuk merevitalisasi nilai-nilai Pancasila. Salah satu cara yang ditempuh Presiden Jokowi adalah membentuk Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP).

Cara-cara intoleran dan SARA yang mengumbar kebencian, fitnah, dan hoax secara agresif dipertontonkan kelompok-kelompok keagamaan tertentu menjelang dan selama Pilkada DKI Jakarta pada 2017. Kelompok-kelompok intoleran itu melakukan aksi sampai berjilid-jilid dengan capture provokatif “penistaan agama” terhadap Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Pilkada DKI Jakarta tak hanya membawa ketegangan politik di Ibu Kota tetapi juga menambah panas situasi politik nasional. Pilkada rasa SARA dan sentimen identitas, yang dimenangkan pasangan Anises Baswedan – Sandiaga Uno, itu dicap sebagai peristiwa politik paling keji dan brutal sepanjang 2017.

Sedemikian rupa, sulit dibantah manakala Setara Institute merilis penelitiannya, menyatakan Jakarta sebagai kota paling tidak toleran di Indonesia sepanjang 2017. Dalam pemeringkatan Indeks Kota Toleran 2017, DKI turun dari peringkat 65 jadi ke 94 atau mendapat skor terendah, yakni 2,30 persen. Setara Institute menyebut bahwa dalam Pilkada DKI Jakarta terjadi 24 peristiwa pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan. Namun pada situasi itu, tidak ada terobosan dan tindakan nyata merespon pelanggaran yang terjadi.

TIGA TAHUN PEMERINTAHAN JOKOWI – JK

Pada 2017 pemerintahan Jokowi – JK memasuki usia 3 tahun. Banyak capaian oleh pasangan ini, terutama di sektor pertanian dan pembangunan infrastruktur. Konsep pembangunan dari desa diwujudkan dalam bentuk dana desa, pembangunan irigasi dan meningkatkan produktivitas pertanian, menata distribusi pupuk dan pasar, termasuk membagi-bagikan 5 juta sertifikat tanah. Sarana dan prasarana angkutan darat, laut, dan udara ditingkatkan dan dibuka, tujuannya, untuk meningkatkan perekonomian serta pemerataan infrastruktur yang akan memutus desparasi pembangunan antardaerah.

BACA JUGA:   HUT Ke-4 FBBI: Di mana Ada Kemauan di Situ Ada Jalan

Suka tidak suka, senang atau tidak, berdasarkan hasil survey Poltracking Indonesia, tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja Jokowi-JK pada 2017 mencapai 68%. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2017 memang menunjukan peningkatan dan perbaikan yang menggembirakan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Hal ini bisa dilihat dari beberapa indikator ekonomi yang ada, misalnya turunnya tingkat kemiskinan, stabilnya pertumbuhan ekonomi, inflasi terkendali, ketimpangan pendapatan dan pengangguran juga menurun (tingkat pengangguran bahkan mencapai titik terendah sejak 18 tahun terakhir), serta peningkatan kualitas hidup seperti diindikasikan oleh angka harapan hidup.

Rata-rata pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di atas angka 5,05 persen pada tahun 2017. Pertumbuhan ekonomi global 2017 lebih kuat dibandingkan 2016 dengan sumber pertumbuhan yang lebih merata, baik dari negara maju maupun negara berkembang. Dikatakan, angka tersebut sedikit lebih stabil jika dibandingkan pertumbuhan ekonomi 2016 yang berada di posisi 5,02 persen.

Dalam berbagai kesempatan Presiden selalu mendengungkan antisipasi terhadap munculnya generasi Y sebagai agen perubahan di era milenium. Agar tidak ditinggal oleh zaman dan kalah dalam persaingan global Presiden Jokowi mengajak jajarannya membuat kebijakan baru yang lebih fleksibel, tidak lagi monoton dan linear. Kepada generasi muda, generasi milenialas dan enterpreneur, Presiden mendorong mereka untuk mengambil peran dalam digital ekonomi yang terus berkembang.

Sepanjang 2017 mata publik tertuju pada Presiden Jokowi. Bukan hanya kebijakannya yang prorakyat juga kecerdasannya mengatasi serangan politik dalam negeri yang amat gaduh. Ialah pemimpin dunia pertama yang bersuara lantang dan proaktif saat etnis Rohingya di Myanmar ditindas. Ia juga tak gentar kepada Amerika Serikat saat menentang kebijakan Donald Trump yang mengklaim Jerusalem sebagai ibukota Israel. Ia terlibat dalam pusaran politik internasional, ekonomi dan perdamauan dunia secara aktif. Di dalam negeri ia adalah negarawan sejati dan salah satu tokoh terpandang di panggung internasional.

Si wajah ndeso tetap tampil sederhana, santun, dan tetap merakyat. Istri, anak dan menantunya juga demikian, jauh dari hiruk pikuk gaya hidup penguasa, tampil apa adanya layaknya masyarakat biasa, mendobrak warisan feodalisme yang selama ini hidup di kalangan istana.

TANTANGAN 2018

Tantangan 2018 tidak boleh dipandang enteng. Dunia masih dihantui bom waktu yang terjadi sepanjang 2017 terutama di bidang politik dan militer yang rentan memicu perang dunia. Krisis energi, ekonomi, dan keuangan global bisa muncul dan dampaknya merembet ke mana saja. Sementara terorisme dan tindakan radikal lainnya masih dianggap potensial memicu malapetaka.

BACA JUGA:   O Hakim, Dengarlah Jeritan Ibu Kami

Indonesia, pada 2018 juga akan menghadapi tantangan yang tidak boleh dipandang sebelah mata. Pertama, sesuai rencana, pada tahun ini, Indonesia akan memasuki tahun politik di mana 171 daerah (provinsi, kabupaten, dan kota) akan menggelar pilkada serentak.

Situasi pada tahun politik 2018 dikhawatirkan akan dilanda bencana politik, konflik horizontal, dan pertikaian elite. Suhu politik yang memanas tentu akan mengganggu pertumbuhan ekonomi dan berpengaruh negatif pada sisi investasi. Investor akan wait and see, menunggu keamanan dan risiko yang lain terkait dengan investasi yang ditanam di Indonesia.

Yang paling dicemaskan adalah perkiraan munculnya “Pilkada rasa SARA dan politisasi identitas” jilid baru sebagaimana terjadi di Pilkada DKI Jakarta pada 2017. Bahwa, sadar atau tidak sadar, diakui atau tidak, gerakan intoleran atas dasar primordialisme agama mayoritas telah hadir secara senyap paska Pilkada DKI Jakarta oleh kelompok tertentu, dan mendapat angin segar dari kalangan dan partai tertentu yang ingin mengeruk keuntungan pada Pilkada Serentak 2018, yang bermuara pada Pilpres 2019.

Kedua, dunia dikhawatirkan akan jatuh pada krisis besar mengikuti siklus krisis 10 tahunan setelah 1998 dan 2008 yang melumpuhkan sebagian besar dunia. Penyebab utama krisis 1998 adalah nilai tukar mata uang yang tidak fleksbel, terutama di Asia. Sedangkan penyebab krisis 2008 salah satunya akumulasi dari risiko perkembangan teknologi.

Banyak pengamat ekonomi yang meragukan krisis 10 tahunan pada 2018. Kalaupun terjadi, diperkirakan kondisi ekonomi Indonesia tidak akan separah krisis 1998 dan 2008. Pertama, kondisi ekonomi Indonesia saat ini sudah jauh membaik dan kedua, fondasi makroekonomi Indonesia saat ini sangat kuat sehingga pemerintah Indonesia punya cukup persiapan untuk menghadapi potensi krisis. Salah satu indikatornya adalah meningkatnya level ekspor setelah perbaikan nilai komoditas. Begitupun musti diingatkan agar pelaku pasar, pengusaha masyarakat, termasuk pemerintah tetap waspada akan kemungkinan terjadinya krisis ekonomi dunia.

TETAP BERHARAP

Optimisme harus ditetap ditebar. Bangsa ini tidak boleh terpuruk apabila sampai bangkrut karena kepentingan kelompok dan pandangan picik primordial. Kita tentu berharap adanya perubahan ke arah yang lebih baik dan sebagai manusia beriman tetap hidup dalam pengharapan.

Sebagai umat Kristen, penulis mengutip Amsal 3 : 7, “Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.” Kita mesti mengandalkan Tuhan dalam segala hal. Tuhan telah mengantarkan kita ke 2018. Kita harus menyambut dengan penuh sukacita dan menyerahkan seluruh perjalanan hidup kita kepada Tuhan.

Selamat memasuki 2018.

*Penulis adalah Pemimpin Redaksi BatakIndonesia.com.

Batak Indonesia (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Facebook (0)

G+ (0)