Marsialap Ari, Refleksi Butir Pancasila di Bonapasogit

Marsialap Ari; Harta Tetap
JAKARTA, BatakIndonesia.com — Menuju suatu perubahan dalam kemajuan suatu pekerjaan sebagai petani, atau non petani perlu menyadari bagaimana cara bekerja agar lebih efisien efektif. Teknologi adalah pilihan cara kita untuk mengerjakaan dengan perhitungan cost and benefit. Untung ruginya. Sesederhana itukah?

Ya nampaknya tidak perlu rumit rumit berhitung dengan teori yang ilmiah membedah topik ini, cukup belajar dari akar budaya kita sejak lama dipraktekkan sekalipun akhir-akhir ini bentuk kerjasama ini disadari semakin memudar. Memudar akibat individualistisnya masyarakat kita.
 
Bekerja sama atau sama-sama bekerja. Dua istilah itu punya artian yang kedengarannya sama, tetapi sesungguhnya berbeda. Bekerjasama, beberapa orang bekerja dalam kurun waktu dan tempat yang sama, sehingga pekerjaan itu terasa ringan dan selesai tuntas. Sedangkan sama-sama bekerja, beberapa orang itu bisa bekerja di tempat masing-masing sekalipun jenis pekerjaannya sama, atau mengerjakan satu pekerjaan oleh beberapa orang dalam waktu yang berbeda.
 
Marsialap ari, bahasa Angkola. Marsiadap ari, bahasa Batak Toba. Pengertiannya sama, yaitu para petani biasanya 7-10 orang, melakukan komunitas menjadi tim “marsialap ari”. Maksudnya pekerjaan utama tiap keluarga itu dapat terselesaikan dengan tepat waktu. Mereka bergantian mendapatkan 1 (satu) hari mengerjakannya, sehingga jika pekerjaan itu dikerjakan satu orang saja, akan memerlukan 7 atau 10 hari bekerja. Namun dengan marsialap ari, bisa dikerjakan hanya 1 hari saja, dengan kualitas yang baik karena bisa dikontrol bersama. Apa keunggulannya marsialap ari?
 
Beberapa keunggulan, dan penulis waktu kecil menyaksikan sendiri bagaimana orangtua melaksanakan praktek ini. Misalnya, sebagaimana diketahui tahap mengerjakan sawah diawali dengan mencangkul sampai tanahnya lembut, rata diukur dari sejajar air. Tahap kedua, menanam padi, ketiga menyiangi, keempat menjaga padi dari hama dan terakhir panen.
 
Bagian yang dibuat pekerjaan marsiadap ari hanya yang berat-berat saja seperti mencangkul dan menanam padi. Rentang mencangkul dengan menanam, dibutuhkan waktu 2-3 hari, dengana maksud agar tingkat asam tanah itu turun menjadi sekitar 7 dan kondisi itu padi akan siap ditanam.
 
Bekerja bersama selalu ada kebersamaan ditandai dengan waktu yang tepat mulai, semua sudah siap dengan alatnya sendiri. Malu bekerja dengan malas, karena jika itu terjadi akan mendapat omongan dan balasan dari lainnya. Satu hari bekerja berbaris, sampai siang waktu makan selama satu jam dan selanjutnya lepas istirahat itu, mulai lagi sampai sore. Begitulah terasa kebersamaan, biasanya targetnya satu hari selesai. Misalnya tanggung pekerjaan, maka dikebut sampai agak malam pulangnya.
 
Makan bersama menjadi daya tarik sendiri, karena menunya tentu diistimewakan ketika marsiadap ari ini. Biasanya lauk pauknya diambil dari kolam yang tersedia di sawah itu. Saat saat beginilah menjadi suatu seni keindahan tersendiri. Bekerja sambil bercengkerama, seakan berlomba namun kadang tertawa hebat jika ada diantara yang memang suka berbicara lucu-lucu atau memiliki humoris.
 
Tidak hanya disawah objek marsiadapari, jika seseorang tidak punya sawah, atau sawahnya sempit sehingga tanggung, maka giliran hari “H”nya dapat dibawa untuk mengerjakan kebun kopi atau membangun rumah atau apa saja yang bermanfaat bagi keluarga tersebut. Namun rata rata marsialap ari pekerjaannya homogen, seperti bekerja di sawah basah/air buan di darat.
 
Jika kita memaknai semangat apa yang lahir berkembang dalam diri mereka sehingga ini menjadi suatu kebudayaan lokal setempat, bahkan dipertahankan berarti menjadi kebutuhan mendasar bagi petani itu sendiri. Nilai menolong, tolong menolong antar sesama, mufakat untuk musyawarah mengerjakan kegiatan produktif, adalah sebagai pengejawantahan nilai Pancasila itu sendiri. Benarlah, Pancasila digali dari kebiasaan dan kebudayaan rakat indonesia. Mampu mengatur kehidupannya sehingga saling menghargai, bekerjasama atau simbiose mutualistis dan tetap menjaga harmoni. Bila ada permasalahan, maka pancasila itu mampu untuk menyelesaikan perbedaan pandangan sehingga jarak permasalahan bisa di nihilkan alias bisa berdamai dengan cara Win-win solution.
 
Pekerjaan lainnya boleh dikerjakan secara selektif, dikerjakan sendiri secara individu. Proses pemilihan ini berjalan secara normal, alami tanpa harus diajari. Itupulalah sejatinya sudah seharusnya “koperasi” harus tumbuh berkembang di Bonapasogit. Kenapa tidak berkembang koperasi selama ini?, tidak lain karena terjadi drive dari atas, atau pemerintah serta penyalahgunaan oleh pengurus yang memprioritaskan kepentingan pribadi pengurus. Mestinya kedaulatan koperasi harus dibangun sedemikian rupa supaya koperasi di drive oleh suara anggota. Anggotalah yang berdaulat. Intisari Trisakti, kedaulatan ekonomi selain budaya dan politik.
 
Mari kembangkan budaya marsialap ari, disegala bidang sebab hanya dengan cara kebersamaan kita mampu menyelesaikan segala isue permasalahan yang selalu menerpa kita dengan kekuatan pada kaki sendiri.
 
Penulis: Ronsen Pasaribu
Editor: Boy Tonggor Siahaan dan Dely Sinaga
BACA JUGA:   Batu Basiha, Keunikan Sisa Letusan Gunung Toba

Batak Indonesia (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Facebook (0)

G+ (0)