Melihat Maria Teringat Joy

Catatan: Antoni Antra Pardosi

Sang idola baru kini lahir di Indonesia. Namanya Maria Dwi Permata Simorangkir atau akrab dipanggil Maria. Dara belia 16 tahun, berzodiak Libra kelahiran Medan 7 Oktober 2001, menyedot simpati puluhan juta masyarakat Indonesia oleh karena penampilan spektakulernya dalam ajang Indonesian Idol 2018.

Membawakan lagu kemenangan “Yang Terbaik”.

Selasa dinihari (24/4/18) Maria dinobatkan sebagai pemenang Indonesian Idol 2018. Dalam grandfinal yang digelar di Econvention Hall Ancol Jakarta, ia mengalahkan Abdul, dan kemenangan itu memang sudah diprediksi banyak kalangan termasuk juri yang terdiri dari Ari Lasso, Maya Estianty, Judika Sihotang, Bunga Citra Lestari, dan Armand Maulana.

Perjuangan Maria tidak mudah. Ia, semula dipandang sebelah mata, hanya sebatas kuda hitam. Namun, lama kelamaan penampilannya yang semakin konsisten membuat publik terperangah. Ia adalah satu-satunya kontestan Indonesian Idol 2018 yang mendapat paling banyak standing ovation dari juri. Penampilannya yang sangat spektakuler saat menyanyikan “Never Enough” membuat si penyanyi aslinya, Loren Allred terpana dan mengucapkan selamat untuk Maria.

Vokal dan performance Maria memang menakjubkan. Ia punya power dan teknik bernyanyi yang mampu menjangkau nada tinggi serta menjinakkan lagu yang memiliki tingkat kesulitan paling rumit. Meminjam istilah juri, semua lagu berhasil ditaklukkan Maria. Termasuk lagu para diva dunia.

Yang jelas, penampilan Maria di grandfinal Indonesian Idol 2018 benar-benar mampu mengembalikan “sengat” Indonesian Idol sebagai ajang pencarian bakat paling spektakuler di Indonesia usai Indonesian Idol I dan II, tahun 2004 dan 2005.

Ekspresi sukacita dan syukur sang juara, Maria Simorangkir

TERINGAT JOY

Gadis berkulit sawo matang, berpipi tembem dan senantiasa memperlihatkan sisiran simetris di ubun membawa lagi pesan bahwa suku Batak itu masih lumbungnya penyanyi berkualitas, tak hanya lewat dapur recording, juga, yang lebih kompetitif melalui ajang pencarian bakat seperti Indonesian Idol.

Maria mengingatkan kita pada Joy Tobing. Ya, Joy adalah juara Indonesian Idol pertama pada tahun 2004. Maria dan Joy sama-sama berdarah Batak, sama-sama memiliki suara emas dengan teknik sempurna. Bedanya, selain periodenya, Maria ikut ajang Indonesian Idol pada usia 16 tahun sedangkan Joy pada usia 24 tahun. Pembeda lainnya, Maria pernah masuk 5 besar Indonesian Idol Junior pada tahun 2014 sementara Joy semasa SMP pernah juara nyanyi tingkat nasional maupun internasional, yaitu Juara Indonesian Gospel Singer 1994, Grand Championship Cipta Pesona Bintang 1994, serta Grand Championship Laser Karaoke Pioneer se Asia Pasifik 1995 di Cina dan Jepang.

Saya tidak tahu persis siapa Maria. Kepingan informasi yang bisa dirajut jadi satu mengatakan bakat musik Maria yang anak semata wayang sudah kelihatan sejak kecil. Ia sudah les vokal sejak kanak-kanak. Selain pintar olah vokal ia juga mahir memainkan alat musik piano, gitar, dan biola. Maria juga dikenal sebagai pianis pengiring Kebaktian di Gereja HKBP Sei Putih Medan.

Saya lebih banyak tahu tentang Joy. Sejak SMP ia sudah jadi tulang punggung keluarga.
Ke mana-mana, saat ada job dan rekaman, ia selalu didampingi kedua orangtuanya sekaligus merangkap sebagai manajer. Joy telah mencoba peruntungannya di dapur rekaman, membawakan lagu Barat dalam bentuk cover version, Pop Batak, Pop Rohani, dan Pop Indonesia. Namun Joy sepertinya belum apa-apa sebelum ikut Indonesian Idol. Begitu mempesonanya Joy, keesokan harinya usai memenangi Indonesian Idol, harian Kompas sampai menempatkan pemberitaan Joy di halaman muka dengan judul “Joy to The World.” Memberi kesan, Joy layak menjadi penyanyi dunia.

Sayang, karir Joy berakhir antiklimaks. Namanya perlahan redup dan menghilang dari gegap gempita industri musik Indonesia. Semua, diduga adalah buah perselisihan Joy terkait kontrak dengan Fremantle Media (pemegang manajemen Indonesian Idol). Entah bagaimana ceritanya mahkota Joy kemudian dicopot dan gelar juara diserahkan kepada Delon Thamrin sang runner up.

Pada tahun 2010 nama Joy ramai diperbincangkan. Bukan karena karir musiknya melainkan kontroversi pernikahannya dengan seorang pria beristri. Tidak berselang lama, pernikahannya itu malah kandas diterpa prahara. Kasihan Joy …

Kembali ke Maria. Menjadi juara reality show terkemuka di Indonesia akan membuka jalan baginya untuk eksis di industri musik Indonesia. Kompetisi sejatinya barulah langkah awal menuju persaingan yang akan lebih ketat. Mampukah Maria mencatatkan nama sebagai penyanyi yang kelak dikenang sebagai diva Indonesia?

Waktu, bahkan sedetik ke depan masih tetap terbungkus misteri. Maria tinggal di Medan. Ia musti menyelesaikan pendidikan SMA-nya, dan sebagai anak semata wayang, sudah barang tentu menjadi pemikiran bagi keluarga untuk berhati-hati melepas putri tersayang ke panggung musik yang amat hiruk pikuk.

Di sisi lain, menjadi jawara di Indonesian Idol belum tentu mampu mencatatkan nama manis setelah kompetisi. Bercerminlah pada kasus Joy. Hingga saat ini tak satu pun pemenang Indonesian Idol yang benar-benar eksis di industri musik Indonesia. Bahkan, untuk tingkat capaian grand final, yang paling eksis hanya Judika Sihotang (runner up II 2005). Jawara lainnya, yang karirnya kurang mengkilap adalah (alm) Mike Mohede (II 2005), Ihsan Tarore – Dirly Sompie (II 2006), Rini Wulandari – Wilson Maiseka (II 2007), Aris Runtuwene (II 2008), Igo Pentury – Citra Scholastika (II 2010), Regina Ivanova – Kamasean Matthews (II 2012), dan Novela Elizabeth Auparay – Husein Alatas (2014). Sebaliknya, peserta yang gugur di tengah kompetisi pun bisa berjaya seperti Afgan, Sammy Simorangkir, Anji, Kunto Aji, Vidi Aldiano, dan Via Valen.

Jalan masih panjang bagi Maria. Usianya baru 16. Seperti apa pun itu, kita layak mengucapkan selamat atas capaian Maria di Indonesian Idol 2018. Satu hal, kita orang Batak tak mau kehilangan “Joy” yang lain.

Maria, tetaplah eksis, dan seperti cita-citamu, mudah-mudahan kelak bisa jadi penyanyi kelas dunia. “Maria to The World.”

Sukacita dan ucapan selamat kepada sang ayah dan bunda Maria, Maringan Simorangkir dan Rohani br. Simanjuntak

BACA JUGA:   HUT Ke-4 FBBI: Di mana Ada Kemauan di Situ Ada Jalan

Batak Indonesia (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Facebook (0)

G+ (1)