Melihat Tapanuli Selatan dari Dekat

Tapanuli Selatan

PADANG SIDEMPUAN, BatakIndonesia.com — Perjalanan dua hari, di Tapanuli Selatan (Tapsel) dan Padang Sidempuan, membuat saya, Ronsen Pasaribu, dan Maruap Siahaan mendapatkan informasi yang baru bagi kami.

Pesawat Lion Air yang membawa kami dari Cengkareng ke Aek Godang, transit di Kualanamo telah dapat mengirit waktu dari 8 jam menjadi 2,5 jam saja hingga sampai di Padangsidempuan.

Aek Godang, lapangan terbang setara dengan Lapang terbang Pinangsori di Sibolga atau Silangit sebelum diperpanjang seperti sekarang.

Kami menginap di lokasi Pendidikan Kejuruan, Penginapan, workshop, pembibitan, peternakan, dan lainnya yang dibangun oleh seorang perantau dari Tapsel, Parsaulian Tambunan. Kepada kami dijelaskan visi dan misi sebuah Asrama Sekolah, sebanyak 300 orang tinggal di atas lahan 20 hektar. Ini sebagai bukti sebagai wujud Marhube itu, karena lahannya dahulu digunakan oleh Raja Inal Siregar sebagai pabrik pengolahan bahan untuk penetralan asamnya tanah. Sekarang beralih kepada Parsaulian Tambunan, seorang pengusaha yang sudah lama tinggal di Jakarta juga.

Beruntung kami juga diajak ke Rumah Pangeran Marha Rambe. Beliau sebagai wakil dari Raja Panusunan Bulung di wilayah Tapanuli Selatan.

Ternyata eksistensi Raja di Nusantara ini masih ada dan eksis bagi kepentingan sosial kemasyarakatan. Gelar-gelar disesuaikan dengan daerah atau wilayahnya serta setiap ada acara adat selalu menghadirkan Raja sebagai yang dituakan. Diceritakan, oleh Pangeran Rambe, jika adat hanya memotong ayam maka dihadiri oleh Raja di kampung itu, dengan jabatan “Ja” di depannya. Jika yang dipotong kambing maka diundang “Sutan”. Jika yang dipotong kerbau, maka yang diundang Patuan, sedangkan jika kerbau 7 atau lebih maka yang diundang Raja atau diwakili Pangeran.

Yang menarik adalah masih diberlakukannya Pengadilan Desa. Artinya Raja Panusunan Bulung (Raja Bius di Toba), masih dapat menggelar masalah pidana tanpa harus lapor ke polisi. Apapun putusan pengadilan desa ini selaku diterima oleh masyarakat adat. Hanya dua perkara yang tidak dapat diselesaikan oleh peradilan desa ini, yaitu: Kasus Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT) dan Pidama Narkoba.

Ini patut didorong agar tercipta harmoni di wilayah pedesaan. Sekalipun di Tapsel tidak dicirikan Desa Adat. Pemerintahan Desa bersinergi dengan Raja Panusunan Bulung di tingkat Desa dan Wilayah antar desa/kecamatan bahkan Kabupaten.

Waktu mau kembali ke Jakarta, kami diskusikan satu hal akan mahalnya tiket Silangit-Jakarta, sebesar Rp1,9 juta. Jauh lebih tinggi tiga kali lipat dari harga biasa Rp600.000 atau berkisar Rp700.000. Jika begini caranya, kapan Bangso Batak menikmati kemudahan lapangan terbang Silangit dengan biaya pemerintah yang luar biasa besarnya. Sementara para kapitalis mengambil kesempatan ambil uang rakyat di sini. Mending kami meneruskan perjalanan ke Kualanamu yang hanya bertarif Rp650.000 ke Jakarta.

Apakah ini temporer?

Penulis: Ronsen L.M. Pasaribu

BACA JUGA:   Sigolang, Desa Kecil Penuh Keunikan

Batak Indonesia (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Facebook (0)

G+ (0)