Mengapa Perpustakaan Penting bagi Bona Pasogit

Ronsen Pasaribu*

BatakIndonesia.com. Sejak Rakernas Forum Bangso Batak Indonesia (FBBI) pertama di Samosir, salah satu program andalannya adalah menyediakan literasi bagi masyarakat Batak di Bona Pasogit. Literasi ini dianggap perlu untuk memperoleh ilmu pengetahuan bagi masyarakat pembaca, memperkaya atau melengkapi apa yang sudah dimilikinya. Buku sebagai jendela dunia akan menambah ilmu pengetahuan yang mestinya dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Sasarannya terdiri dari tiga kelompok. Pertama, siswa di segala tingkatan, mulai dari Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Tingkat Atas (SMA dan SMK). Kelompok kedua dan ketiga adalah guru sekolah dan masyarakat umum di segala usia.

FBBI sendiri telah mengirimkan berbagai jenis dan judul buku ke beberapa desa terpencil di Sumatera Utara, sebutlah Desa Sigolang, Kecamatan Aek Bilah di Tapanuli Selatan; Desa Lintong di Kecamatan Borbor di Tobasa; Desa Unjur di Kecamatan Simanindo di Samosir; Desa Hutapaung, Kecamatan Pollung di Humbang Hasundutan; Desa Tinada di Pakpak Bharat, dan Desa Bulucina, Kecamatan Hamparan Perak (yang dominan penduduknya adalah masyarakat Batak), di Deliserdang.

Kenapa FBBI mendirikan Balai Pustaka di sana? Harus diakui bahwa di banyak wilayah desa terpencil jamak terjadi kelangkaan buku dengan alasan beragam, antara lain minimnya anggaran pemerintah daerah untuk itu. Perbandingan jumlah murid dengan jumlah buku memang masih mengalami kesenjangan.

Adanya perpustakaan keliling dengan menggunakan kendaraan khusus oleh Dinas Pendidikan di kabupaten juga membuktikan adanya kelangkaan buku, dan kurang optimal karena murid tidak diwajibkan meminjam, serta waktu bacanya pun sangat terbatas karena buku sifatnya akan dibacakan lagi ke sekolah berikutnya. Selain itu, model ini punya anggaran tambahan karena melibatkan beberapa staf pegawai, termasuk biaya operasioal kendaraan.

Secara umum, bukan hanya di pedesaan pedalaman, buku perpustakaan mestinya mendapat perhatian intens dari kalangan sekolah. Sering terjadi, misalnya di kota-kota kecamatan yang sudah ada jangkauan internetnya, para guru kerap menyuruh para murid menyelesaikan tugasnya dengan cara membuka internet. Tidak salah. Namun, menurut hemat kami, membaca buku (hard copy) masih diperlukan sebab selain bisa dibaca berulang-ulang juga karena sistematikanya lebih lengkap. Jikapun budaya internet sudah dikuasai oleh murid maka membaca buku merupakan keniscayaan. Lebih banyak membaca buku, lebih baik. Seperti kata orang bijak, menilai seseorang apakah dia pintar atau tidak, dapat dilihat dari jenis buku yang dia baca.

Bukan hanya murid. Guru juga mesti menambah wawasan dan tingkat pengetahuannya agar mampu melengkapi diri menjawab tantangan pengajaran kognitif yang lebih modern, dan sumbernya antara lain adalah buku-buku mutakhir mengenai pengajaran. Sebab, sejatinya ilmu pengetahuan itu mengalami kemajuan sesuai perkembangan zaman.

Buku perpustakaan juga penting bagi masyarakat umum. Itulah sebabnya FBBI juga mengirimkan jenis buku yang bersifat tuntunan praktis misalnya dalam budidaya pertanian, perikanan, perdagangan, ekonomi kreatif berbasis kerajinan dan industri kecil. Jenis tuntunan dengan bahasa yang mudah dimengerti itu, akan memperkaya seorang petani seputar usaha tani yang produktif. Sesungguhnya petani kita sudah memiliki pengetahuan mengenai pertanian secara turun temurun sesuai kebijakan lokal. Namun, dengan buku pengetahuan praktis tadi yang didasarkan pada penelitian dan uji coba laboratorium oleh para ahli, sudah barang tentu akan melipatgandakan produksi pertanian mereka. Sebut saja bagaimana petani melakukan olah tanam, mengetahui tinggi rendahnya keasaman atau PH tanah, seleksi bibit unggul, antisipasi musim, penggunaan pestisida dan penanggulangan hama, serta peningkatan kuantitas dan kualitas produksi panen. Sasaran berikutnya adalah sistem pemasaran dan pengembangan usaha.

Balai Pustaka merupakan “roh” dari kegiatan FBBI di bidang pendidikan dan pertanian (dengan segala ruang lingkupnya) di Bona Pasogit. Dalam hal ini, FBBI selain dari kas organisasi juga melengkapi buku dari hibah para donatur dan simpatisan khususnya netizen. Kami senantiasa mendengungkan slogan “Mari membaca untuk mencapai masyarakat/bangso Batak yang mandiri dan sejahtera”, dan upaya tersebut akan semakin berdampak manakala masyarakat Batak perantau turut berpartisipasi.

Kami menunggu partisipasi pembaca dengan mengirimkan buku ke Sekretariat FBBI, Jln. Jenderal Ahmad Yani No 2, Utan Kayu, Jakarta Timur, bisa langsung diantar atau dikirimkam via paket atau pos. Kalau bukan kita, siapa lagi yang peduli ke Bona Pasogit?

*Penulis adalah Ketua Umum Forum Bangso Batak Indonesia

BACA JUGA:   Bagaimana Membedakan Data dan Hoax?

Batak Indonesia (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Facebook (0)

G+ (0)