Para Pimpinan Sinode Gereja Dicerahkan Soal Sertifikasi Tanah Gereja

JAKARTA, BatakIndonesia.com — Berawal dari ajakan Pdt Gomar Gultom, M.Th (Sekretaris Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia), Dr Ronsen L. M.Pasaribu diundang untuk memberikan pencerahan kepada para pimpinan Sinode Gereja soal sertifikasi tanah gereja di Grha Oikoumene, Jalan Salemba Raya No. 10 Jakarta Pusat, Kamis (23/8/2018).

Secara kebetulan dan sekaligus mengagetkan, selesai acara tersebut dilanjutkan dengan menerima kunjungan Silaturahmi Presiden RI, Bapak Joko Widodo.

Kedua momen ini sangat membawa makna bagi kemajuan gereja-gereja di Indonesia. Atensi Presiden agar tanah yang dimilikinya diberikan sertifikat sebagai bukti hak atas tanah sekaligus berfungsi memberi perlindungan hukum, sehingga pemanfaatan dan penggunaan tanah tersebut boleh memberikan manfaat optimal bagi pemiliknya.

Ketua Umum PGI, Pdt Dr Henriette Lebang, dalam sambutannya, melaporkan kepada Presiden bahwa seluruh Gereja telah mendapat pencerahan dari Dr Ronsen L. M. Pasaribu, sebagai pelaksanaan perintah Presiden kepada Lembaga Kementerian Agraria dan Tata Ruang/BPN untuk mensertifikatkan tanah melalui PTSL. Presiden tentu senyum dan memberikan aba-aba kepada Ronsen Pasaribu berdiri memperkenalkan diri.

Ronsen Pasaribu menyampaikan kepada para pimpinan Sinode Gereja HKBP, GBI, GKJW, dan 250 pimpinan lainnya mengenai sertifikasi tanah gereja tersebut. Banyak pimpinan Sinode Gereja memberikan respons hingga terjadi dialog selama 2 jam lebih.

Pertemuan itu memunculkan gambaran umum, seperti di bawah ini:

Pertama, relatif rendah perhatian seluruh gereja aras nasional dalam hal sertifikasi. Bukannya kurang perhatian gereja, tetapi gereja menganggap mengurus sertifikat itu sulit, mahal, dan membingungkan terlebih di daerah yang rentan masalah keagamaan.

Kedua, Gereja bersedia mensertifikatkan tanahnya, asal dibantu oleh Kantor Pertanahan. Inilah yang disosialisasikan dengan adanya kebijakan nasional soal PTSL di mana tanah Gereja dimasukkan dalam pelayanannya sebagai bagian dari PTSL tahun berjalan. Jika di luar obyek, maka kewajibannya membayar Rp370.000 saja secara flat tidak terkait luas tanahnya.

BACA JUGA:   O Hakim, Dengarlah Jeritan Ibu Kami

Ketiga, persyaratan pun mendapat kebijakan Pemerintah dengan mempermudah apabila atas hak sudah tidak ditemukan lagi. Cukup dengan pernyataan penguasaan tanah dengan perolehan tanah dengan itikad baik, dengan disaksikan oleh minimal 2 (dua) orang saksi dengan catatan tidak ada sengketa, tidak dalam sitaan lembaga keuangan. Baca Permen ATR/BPN No 6 Tahun 2018.

Keempat, menggarisbawahi penggunaan tanah sepanjang digunakan untuk pelayanan gereja, Sekolah Minggu, Remaja, Pemuda, Jemaat, dan rumah sewaan pun harus dimasukkan sebagai kategori rumah Ibadah karena kegiatan itu adalah bagian kegiatan utamanya. Izin penggunaannya untuk gereja.

Kelima, penyesuaian dengan tata ruang perlu jadi atensi gereja agar tidak terlalu besar konflik dengan masyarakat setempat. Perihal Izin Menderikan Bangunan (IMB) dan Izin Ibadah dari Badan Linmas Pemkab/Pemkot, tentu jika dipenuhi persyaratannya maka tidak ada alasan menolaknya. Jika ada masih, maka itu menjadi pergumulan. Hendaknya gereja melakukan pendekatan yang tepat dengan masyarakat yang bersifat saling membutuhkan satu dengan lainnya. Niscaya akan diterbitkan izinnya.

Ternyata dengan selesainya pertemuan ini, masih diharapkan sosialisasi secara parsial dengan sinode masing-masing, seperti yang terjadi di hari puncak, di tengah-tengah Gereja Bethel Indonesia (GBI) se-Indonesia dan luar negeri.

Tentu, beragam permasalahan kami bedah dan diberikan petunjuk solusinya. Mulai masalah pinjam nama pribadi, tanah fasum yang dibangun gereja, tanah Kartu Hijau di Surabaya, Gereja di Ruko, Mal, tanah Yayasan yang harus dipidahkan ke Sinode, Pajak, Gereja di Tanah Hutan, Gereja di pemukiman, dan bagaimana agar tanah yang dimiliki menjadi sumber pemasukan keuangan bagi lembaga keagamaan di hari yang akan datang.

Sumber narasi: Ronsen Pasaribu (ronsenpasaribu.com)
Editor: Boy Tonggor Siahaan

Batak Indonesia (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Facebook (0)

G+ (0)