Pengalaman yang Tak Terlupakan Keliling Danau Toba

Danau Toba

SAMOSIR, BatakIndonesia.com — Perjalanan yang melelahkan langsung terbayar dengan banyak pengalaman yang kami dapatkan selama empat hari bersama warga Kawasan Danau Toba (KDT) di tujuh kabupaten (Samosir, Sidikalang, Humbang Hasundutan, Tapanuli Utara, Toba Samosir, Simalungun, dan Tanah Karo) Provinsi Sumatera Utara. Kami merasakan bagaimana keindahan dan kehidupan masyarakat  desa yang sederhana di sekitar Danau Toba.

Rapidin Simbolon (Bupati Samosir)

Berbagai cara dilakukan masyarakat agar bertahan hidup mendapatkan kehidupan dan sekolah anak yang layak. Kehidupan masyarakat yang toleran adanya berbagai struktural pemberdayaan kearifan lokal baik sosial budaya dan agama (Parmalim atau aliran   kepercayaan Batak Kuno, Kristen Protestan, Katolik dan Islam). Menyikapi, Merasakan dan mengalami sisi kehidupan masyarakat yang berbeda terasa begitu nyata.

Perjalanan kami menggunakan pesawat dari Bandara Soekarno Hatta Jakarta ke Kualanamu, Medan, Sumatera Utara. Lalu, perjalanan dilanjutkan dengan mobil Bapak Master Harianja menuju Parapat yang ditempuh 3 jam lewat jalan Tol Kualanamu-Sei Rampah Tebing Tinggi yang baru diresmikan Presiden Joko Widodo tanggal 13 Oktober 2017. Cerita perjalanan, menghibur dengan berbagi pengalaman agar suasana interaksi tidak kaku sepanjang perjalanan dari Sei Rampah menuju Parapat yang melewati Kota Siantar. Memasuki Kota Siantar kita singgah makan Mie Pangsit Siantar dan minum kopi Toba.

Sebagian dari kami adalah Perantau di Ibukota Jakarta juga berasal dari Desa di daerah Pangururan,  Pulau Samosir, Kabupaten Samosir dan Kecamatan Balata, Kabupaten Simalungun. Saat waktu tiba di Pulau Samosir, tampak terlihat pemandangan nan indah di Desa Harianboho, Samosir. Setiap kampung sangat sejuk, damai dan tampak penduduk sangat berbahagia dan bekerja keras serta struktural pemimpin adat setiap marga yang akan memimpin acara adat.

Selama berada di Danau Toba bertemu tokoh-tokoh di antaranya pimpinan daerah, tokoh lingkungan,  adat, agama, dunia pendidikan dan pengusaha di antaranya, Bupati Samosir Rapidin Simbolon, tokoh lingkungan Wilmar Simanjorang, Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Pangururan Bilpon Simbolon, Ibu Pardede, Cendikiawan Universitas Tapanuli yang juga Dekan Fakultas Ekonomi Unita Joan Berlin Damanik, Pengusaha Erik Gultom, Binsar Simarmata, Pahalatua Simbolon, Teddy Matheos, Mr. Kim (Pengusaha Asal Korea), keluarga almarhum Marsius Sitohang, Pastor/romo Paroki Pangururan Pastor M. Sihombing, Pendeta HKBP Harianboho Pdt Sihotang dan Bapak Sirait keluarga Sisingamangaraja di istana Sisingamangaraja, Muara. Ketika berbincang-bincang, mereka menjelaskan bagaimana pengembangan Danau Toba dengan tidak meninggalkan kearifan budaya lokal, kebudayaan suku Batak yang terdiri 6 puak (Toba, Simalungun, Pakpak, Karo, Mandailing, Angkola).

Sementara saat di makam Sisingamangaraja, Bakkara, diceritakan oleh Bapak Sirait bahwa Raja Sisingamangajaraja membuat aturan adat sangat kuat, tegas dan berlaku buat warganya, sehingga kelihatan sulitnya bangsa asing untuk menjajah di Tanah Batak. Saat itu, acara adat yang begitu kuat sangat terasa damai didukung alam yang sejuk, bersih dan tanpa polusi udara.

Keunikan lainnya banyaknya hamparan sawah berundak-undak (mirip Subak di Bali). Sebagian sawah menggunakan aliran sawah untuk mengairi sistem pertanian dan juga air dari aliran sungai hutan. Penanaman padi yang mengikuti sistem tradisional, yakni pengelolaan dengan bajak sawah pake kerbau walaupun sudah ada menggunakan mesin/traktor dan sama halnya ketika panen padi masih secara gotong-royong (Martopas Eme) meski di sebagian tempat sudah memakai tenaga mesin. Kontur tanah yang efisien dan produktif terlihat indah karena tidak ada lahan kosong, karena bukan hanya ditanami padi tapi jagung dan sayur-sayuran lainnya.

Melestarikan Lingkungan

Perjalanan ini semakin menarik ketika kami melakukan perjalanan sudah tiga hari lebih keliling Danau Toba baik lingkar luar, maupun lingkar dalam Danau Toba, yaitu: Kabupaten Samosir. Jalan meliuk-liuk, seperti di Tele dari Kota Pangururan, Pulau Samosir menuju bandara Internasional Silangit di Tapanuli Utara kita disungguhi pemandangan indah dan jalan terjal serta monyet-monyet yang turun ke jalanan.

Penduduk Samosir yang ramah dan masih banyak ditemui rumah adat Batak menjadi daya tarik wisata untuk menggali informasi leluhur Batak. Hamparan eksotisme pemandangan Danau Toba yang indah menemani perjalanan membuat kita lupa dangan kepenatan pekerjaan dan juga hiruk pikuk kemacetan ibukota Jakarta. Air Danau Toba yang kelihatan biru membuat mata terbelangak seperti lautan luas, konon dulu airnya bisa langsung diminum namun sangat saat ini airnya tidak bisa langsung diminum karena sudah banyak pencemaran dan semakin bertambahnya kepentingan hajat hidup masyarakat di sekitar Danau Toba.

Seiring perjalan tampak terlihat jelas adanya keseriusan pemerintah dalam pembenahan pembangunan infrastruktur di Kawasan Danau Toba setelah ditetapkan menjadi salah satu destinasi dari sepuluh pengembangan kawasan strategis pariwisata Indonesia, yakni pelebaran jalan dan pembangunan objek wisata tampak terlihat oleh pemeritahan daerah di tujuh kabupaten yang mengelilingi Danau Toba.
 
Melalui perjalanan ini kami semakin memahami bahwa masih ada penduduk Indonesia yang peduli terhadap kelestarian alam dan belajar dari penduduk yang selaras dengan alam. Kita semakin peka terhadap lingkungan yang beragam, menjaga keragaman ini sebagai kekayaan pengalaman yang begitu berharga dan mari kita harus bergerak melestarikannya.

Oh Danau Toba, Riwayatmu Kini

Jakarta, 16 November 2017

Liber Simbolon (+6282276306686)

BACA JUGA:   Mari Tumbuhkan Sifat Empati Atas Masalah Umum di Bonapasogit

Batak Indonesia (1)

One comment

  • Terimakasih atas hadirnya media ini, sehingga memberikan kontribusi dalam melestarikan Batak seutuhnya. Sajian informasi berupa tulisan, gambar bahkan mungkin audio visual tentang Sejarah, Budaya, Seni, Hukum Adat, maupun yang mungkin tertinggal selama ini, atau tidak diketahui orang banyak perihal apa itu Batak.
    Sukses untuk FBBI.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Facebook (1)

G+ (0)