Perjalanan Ziarah ke Jabu Hela

Sopo Parsaktian di Jabu Hela (Foto: Antoni Antra Pardosi)

Catatan: Antoni Antra Pardosi

Senang, bangga, terharu, dan berbagai nuansa sukacita lainnya menyergap batin saya manakala berkunjung ke tanah leluhur, Jabu Hela di lambung Gunung Pusuk Buhit.

Foto Satelit Jabu Hela di Pusuk Buhit (Disain: Antoni Antra Pardosi)

 

Lokasi Jabu Hela di lambung sebelah timur Pusuk Buhit (Foto: Antoni Antra Pardosi)

BatakIndonesia.com. Hujan yang turun dari malam masih menyisakan gerimisnya hingga pagi hari itu. Kota kecil Pangururan dan sekitarnya, dalam beberapa hari terakhir memang kerap diguyur hujan. Saya, dan beberapa rekan berdiri gelisah di teras sebuah hotel tempat kami menginap. Perairan Danau Toba serta daratan Desa Tanjung Bunga di seberang dengan latar Gunung Pusuk Buhit tampak seperti gadis manis yang baru bangun tidur, berdiri gugup di balik tirai kelabu.

Kami disergap ragu, apakah perjalanan ke Pusuk Buhit bisa dilakukan sesuai rencana dalam kondisi alam seperti itu? Seorang gadis muda yang kami dampingi dalam perjalanan ritualnya ke Pusuk Buhit, memberi gelagat berbeda. Sembari tersenyum tipis, ia berkata, “Hujan akan segera reda. Hari akan terang benderang. Setelah ritual di sana, nanti, barulah gerimis turun lagi,” ujarnya. Saya dan rekan saling pandang, antara yakin dan tidak.

Perkiraan si gadis tidak meleset. Tidak berapa lama gerimis benar-benar reda. Sinar matahari perlahan menghalau mendung. Kami bergegas menuju pemandian Aek Rangat Pangururan di mana kami akan bertemu Pak Naibaho. Beliau pemilik salah satu kedai di sana, yang akan memandu kami ke Pusuk Buhit. Yang saya maksud dengan Pusuk Buhit adalah lambung sebelah timur di mana terdapat Jabu Hela. Menurut gadis tadi, perjalanan ke Jabu Hela tidak boleh sembarangan, mesti ada pendamping, untuk itu, Pak Naibaho bisa kami minta bantuan menjadi semacam “guide spritual”.

Jabu Hela berada persis di atas Aek Rangat Pangururan, Samosir (Foto: Antoni Antra Pardosi)

MASIH ASING

Jabu Hela, atau suka disebut Ruma Hela, sungguh nama yang masih asing bagi saya dan barangkali juga Anda. Ya, selama ini, bicara Pusuk Buhit, orang hanya disuguhi berbagai cerita mengenai situs budaya Batu Hobon, Aek Sipitu Dai, Batu Sawan, dan lain-lainnya. Padahal, seperti yang saya tahu kemudian, Jabu Hela tidak kalah pentingnya dibandingkan dengan situs lainnya itu. Ia setara dengan Parik Sabungan, perkampungan Guru Tatea Bulan yang kemudian dipindahkan dalam bentuk monumen di Sopo Guru Tatea Bulan sekarang. Sebabnya, Jabu Hela adalah perkampungan adik Guru Tatea Bulan bernama Raja Isumbaon. Kedua-duanya merupakan anak atau generasi kedua dari Siraja Batak.

Tidak salah kenapa Jabu Hela masih asing di telinga banyak orang. Rupanya, lokasinya baru ditemukan pada tahun 2011 melalui proses pencarian supranatural yang panjang. Ya, sebelumnya orang hanya tahu perkampungan Raja Isumbaon berada di Sijambur Mula Toppa atau Huta Sijambur. Persisnya di mana, kala itu masih tanda tanya besar.

JAUH TERPENCIL

Gunung Pusuk Buhit dalam mitologi Batak dikenal sebagai tempat asal-muasal suku Batak. Siraja Batak dan Guru Tatea Bulan disebut-sebut menempati lereng bagian barat di dua buah lembah vulkanik yang subur yaitu Limbong dan Sagala (Kecamatan Sianjurmula-mula). Raja Isumbaon memilih tempat yang jauh, di balik gunung, di sebuah lambung bagian timur di ketinggian kurang lebih 500 meter di atas permukaan Danau Toba.

Jabu Hela berada persis di atas bongkahan belerang Aek Rangat Pangururan. Dalam peta modern sekarang, Jabu Hela berada di perbatasan Desa Siogung-ogung dan Desa Tanjung Bunga, Kecamatan Pangururan. Meski dekat, tidak ditemukan jalur dari Aek Rangat ke Jabu Hela, malah boleh dikatakan mustahil karena medannya berat, lerengnya curam dengan kemiringan ekstrem. Menuju ke sana, kami dipandu Pak Naibaho dengan Kijang tuanya mengitari jalan Pangururan-Tele yang melingkar di lereng selatan, kemudian mendaki ke dataran tinggi lereng Pusuk Buhit ke Desa Tanjung Bunga.

Panorama alam Danau Toba dan Pulau Samosir dari Jabu Hela/Sijambur Mula Toppa (Foto: Antoni Antra Pardosi)

PANORAMA EKSOTIS

Kami tiba di sebuah titik di lambung gunung di separuh ketinggian Pusuk Buhit. Saya melirik jam. Perjalanan dari Aek Rangat mencapai 30 menit lebih. Jabu Hela tampak tidak jauh, bila ditarik garis lurus tidak sampai 1 kilometer dari tempat kami berdiri. Pertandanya adalah bangunan berdinding terbuka dengan atap kurva melengkung meniru atap rumah tradisional Batak. Perjalanan ke sana mesti dilanjutkan dengan cara berjalan kaki, kurang lebih 20 menit dalam keadaan santai.

Pemandangan di sini sangat indah. Dinding kaldera Toba di kawasan Dairi dan Simalungun tampak membiru di arah utara. Ke arah selatan perairan danau memperlihatkan tutupan luas yang bervariasi, lebih sempit, beberapa tanjung yang saling menjangkau membentuknya serupa selat. Pulau Samosir tampak berendam manja seolah menyurukkan kakinya ke dasar danau yang sejuk. Lanskap Toba Holbung dan pebukitan Humbang bagai melambai dari kejauhan.

Suasana terasa hening. Padang ilalang dan tumbuhan liar berwarna kuning kehijauan tampak mendominasi seluruh tutupan gunung ke mana mata memandang. Di sela hamparan itu pohon pinus berbaris acak dari lereng sampai ke puncak dengan batang yang ramping. Saya menoleh ke atas. Puncak Pusuk Buhit tak jauh lagi dari tempat saya berdiri. Di bawah puncak terdapat sebuah ceruk yang ditumbuhi rerimbun pepohonan tropis.

Matahari tepat berkacak di ubun-ubun. Kami mengikuti pandangan Pak Naibaho yang mendongak ke atas. Lingkaran pelangi tampak mengelilingi matahari. “Itu pertanda baik,” tukas Pak Naibaho.

Puncak Pusuk Buhit dari kawasan Sijambur Mula Toppa (Foto: Antoni Antra Pardosi)

PERKAMPUNGAN BULAN SABIT

Saya begitu terpesona pada panorama alam di sekeliling sampai tercecer jauh dari rombongan. Kami berjalan beriring mengikuti jalan tanah setapak di lambung gunung. Sekeliling tampak tandus. Pada lereng yang agak landai ternyata lebih subur sebab di sana terdapat ladang penduduk yang ditanami kopi dan palawija.

Lokasi perkampungan Raja Isumbaon berbentuk landai sedikit bergelombang dan bentuknya seperti bulan sabit. Saya merenung, menggali imaji ke masa purba membayangkan suasana kehidupan Raja Isumbaon dan anak cucunya. Areal di sini sangat subur. Tentu mereka hidup berladang dan berkecukupan pangan. Sesuai dengan namanya, Sijambur Mula Toppa, di sini pula Raja Isumbaon mendapat ilham menciptakan (manompa) alat-alat musik tradisional Batak dan menurunkan tradisi manortor (menari). Ia memang dianugerai keahlian di bidang itu.

Tanda-tanda adanya perkampungan tidak saya temukan di Jabu Hela. Tetapi, melihat susunan batu-batu raksasa dan dua batang pohon besar jenis bintatar persis di tengah areal bulan sabit yang merapat ke dinding gunung, tidak tertutup kemungkinan di sinilah dulu para leluhur itu menjalankan ritualnya memuja Sang Khalik dalam kepercayaan Batak kuno: kepada Mulajadi Nabolon. Empat pohon sejenis, dengan ukuran yang lebih kecil, tumbuh tidak jauh dari dua pohon besar. Konon, menurut Pak Naibaho, usia pohon itu sudah ratusan tahun, kemungkinan besar yang menanam pohon itu adalah Raja Isumbaon.

Sopo Parsaktian dibangun membelakangi susunan batuan dan pepohonan. Sopo itu berukuran sekitar 20 meter x 9 meter. Lantainya keramik dengan tiang beton. Di bagian dalam terdapat meja dari semen berbentuk segitiga, di dua sisinya ditempatkan 7 cawan. Menurut informasi, yang membangun sopo itu adalah adalah salah seorang keturunan Raja Isumbaon yang tinggal di Medan, bernama Hendri Naibaho. Tidak jauh dari sopo terdapat sebuah bangunan sederhana yang dulu digunakan sebagai tempat tinggal para tukang serta tempat menyimpan peralatan dan bahan bangunan.

Setelah ditemukan dan dibangun Sopo Parsaktian maka sejak itulah orang-orang mulai berdatangan ke Jabu Hela. Biasanya, mereka yang datang tujuannya adalah untuk ziarah, terdorong rasa ingin tahu, atau melaksanakan acara ritual. “Jumlah pengunjung tidak sebanyak ke situs lainnya di Pusuk Buhit. Mungkin karena letaknya jauh terpencil, atau informasinya belum menyebar,” tukas Pak Naibaho.

Menjalankan ritual penyembuhan di Jabu Hela (kiri). Kondisi dalam Sopo Parsaktian, difoto dari arah belakang (Foto: Antoni Antra Pardosi)

MENGAPA DISEBUT JABU HELA

Siraja Batak memiliki dua anak bernama Guru Tatea Bulan dan Raja Isumbaon. Nama dan keturunan Siraja Batak ini, kemudian dikenal dengan 2 golongan besar, yaitu Golongan Tatea Bulan atau Ilontungon dan Golongan Raja Isumbaon atau Sumba. Dua golongan inilah yang melahirkan 5 induk marga yang ada sekarang, masing-masing Lontung dan Borbor dari Golongan Ilontungon; serta Nai Ambataon, Nai Rasaon, dan Nai Suanon dari Golongan Sumba.

Pertanyaan yang terbersit adalah, kenapa disebut Jabu Hela atau Ruma Hela? (Rumah Menantu, dalam terjemahan bebas bahasa Indonesia). Menurut Pak Naibaho, sebagaimana juga yang lazim dicatat pada tarombo Batak, bahwa Golongan Sumba adalah pihak boru atau hela (pengambil istri) dari Golongan Ilontungon (menjadi hula-hula, atau pemberi perempuan).

Raja Isumbaon menikah dengan Siboru Siak Go Ina. Mereka memiliki 3 putra, bernama Tuan Sorimangaraja, Raja Asi-asi, dan Sangkar Somalidang. Hanya Tuan Sorimangaraja yang diketahui memiliki keturunan di kalangan Batak, sedangkan Raja Asi-asi dan Sangkar Somalidang keberadaannya masih misteri, pergi menghilang, keturunannya tidak bisa dipastikan sampai dengan sekarang.

Tuan Sorimangaraja memiliki 3 orang istri, 2 di antaranya adalah putri dari Guru Tatea Bulan yaitu Siboru Anting Haomasan (ada versi yang menyebut nama berbeda) dan Siboru Biding Laut. Adapun istri satunya lagi adalah Siboru Sanggul Haomasan. (Ada versi yang mengatakan bahwa Siboru Sanggul Haomasan adalah putri dari Sariburaja, dengan demikian adalah cucu dari Guru Tatea Bulan). Masing-masing istri melahirkan seorang anak, secara berturut adalah Tuan Sorbadijulu (Nai Ambaton), Tuan Sorbadijae (Nai Rasaon), dan Tuan Sorbadibanua (Nai Suanon).

Sebagai catatan, dalam migrasi secara periodik keturunan Raja Isumbaon kemudian menyebar ke berbagai penjuru di kawasan Tanah Batak. Marga keturunan Nai Ambaton menempati kawasan Pulau Samosir; marga keturunan Nai Rasaon ke kawasan Uluan dan Toba Holbung; sementara marga keturunan Naisuanon ke kawasan Toba Holbung, sebagian Samosir dan Paropo, serta kawasan Humbang dan Silindung.

Marga penulis sendiri (Pardosi) merupakan generasi ke-9 dari Raja Isumbaon dari garis Tuan Sorimangaraja – Naisuanon – Sibagotnipohan – Tuan Dibangarna – Siagian – Pande Anduri – Guru Somasangkut – Raja Ega (Raja Ompu Dongan Pardosi).

Rombongan foto bersama di Jabu Hela.

****

Berada di Jabu Hela membuat saya serasa kian dekat dengan para leluhur. Sebagai orang Batak, saya senang dan bangga bisa berkunjung ke sana. Waktu dua jam terasa begitu singkat. Awan hitam di angkasa Toba Holbung bergerak ke angkasa Pusuk Buhit tidak berapa lama setelah acara doa, ritual, dan makan siang. Gerimis turun. Lagi-lagi, perkataan gadis itu juga terbukti. Kami meninggalkan Jabu Hela dengan penuh sukacita di tengah guyuran hujan.

“Tidak apa-apa. Hanya gerimis. Sebentar lagi juga reda,” ujar si gadis, yang kami temani melakukan ritual, penuh wibawa, dengan senyumnya yang tipis. Saya tidak meragukannya. 

 

BACA JUGA:   Perjalanan Mengesankan Saat Berkunjung ke Batu Sawan

Batak Indonesia (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Facebook (0)

G+ (1)