Petani Kol di Bona Pasogit Menangis dalam Kesunyian

Catatan Ronsen LM Pasaribu*

Banyak hal yang menarik dan pantas dicatat setiap pulang ke Bona Pasogit. Salah satunya adalah kehidupan petani yang luput dari perhatian para stakeholder, berjalan begitu saja, didiamkan karena tidak tertarik atau bingung tak tahu berbuat apa.

Humbang Hasundutan adalah salah satu daerah yang saya kunjungi saat pulang kampung awal Januari lalu. Daerah ini dikenal sebagai penghasil kopi dan aneka jeni sayuran. Salah satunya adalah kol. Di Sumatera Utara, selain di Humbahas, kol paling banyak ditanami di Tanah Karo dan Simalungun. Bukan hanya memenuhi pasar lokal, kol juga dikirim ke kota-kota besar bahkan diekspor ke luar negeri.

Meski pasarnya sangat menjanjikan, ternyata harga jual kol di Humbahas , ketika itu sangat di luar dugaan. Harga jual kol di tingkat petani dihargai Rp 5.000 perkarung, di mana perkarungnya berisi 20 buah kol. Sedangkan harga di pasaran, yaitu di kota besar dihargai Rp 15.000 perbuah, dengan asumsi 20 buah perkarung, maka harga perkarung mencapai Rp 300.000. Profit marginnya sangat luar biasa, meski belum dipotong untuk biaya transportasi dan penyusutan. Luar biasa! Tidak memenuhi rasa keadilan mengacu pada rumusan Ekonomi Pancasila.

Anjloknya harga kol membuat petani seperti menangis dalam kesunyian. Pasrah dan tak mampu berbuat apa. Untuk kondisi harga Rp 5.000 perkarung, petani memilih lebih baik tidak memanen, dibiarkan membusuk jadi pupuk, ketimbang dijual merugi. Biaya tanam dan panen, tidak seimbang lagi dengan harga jual. Analisis proses cost tanaman kol menunjukkan biaya yang tidak sedikit. Mulai dari biaya bibit, pengerjaan seperti mengolah lahan, penanaman, pemupukuan, dan perawatan. Waktu yang dibutuhkan untuk sekali panen mencapai 3,5 bulan.

BACA JUGA:   Empat Isu yang Musti Diperhatikan Generasi Muda Batak

Harga kol fluktuatif, bisa Rp 10.000 hingga Rp 30.000 perkarung. Petani mengaku, sudah mendapat keuntungan jika harga mencapai Rp 100.000 perkarung.

JARINGAN MAFIA

Ketika saya melibatkan diri dalam JPIP (Jaringan Pemerhati Industri dan Perdagangan) yang sebentar lagi akan melakukan seminar nasional, salah satu sorotan dalam perdagangan dan industri adalah jaringan mafia di bidang tata niaga barang dagangan dengan margin yang luar biasa tadi, menumpuk pada pihak pedagang yang punya modal dan bisa membentuk kartel yang mampu memainkan quota pembelian, dan pada gilirannya mengatur tinggi rendahnya harga pembelian dari petani.

Usul konkretnya hendaknya dibentuk badan pemerintah yang permanen, tidak bersifat Adhock seperti Tim Pengendali Harga oleh Bulog dan Kepolisian. Tapi jika ini serius, bisa dibuatkan badan sebesar kekuasaan KPK.

Petani begitu pasrah, tetap saja menanam kol , sekalipun dalam kalkulasi dalam posisi tidak memiliki informasi harga apalagi kepastian harga jual. Di tengah ketidakpastian, mereka tetap bertani, sebab tak ada pilihan lain. Hanya harapan dan doa saja. Mudah-mudahan, harganya di atas keekonomiannya, asal untung sudah puji syukur kepada Tuhan. Untunglah petani masih menanam jenis tanaman lainnya dengan harga relatif tetap, seperti kopi dan cabai, serta jenis sayuran lainnya.

Harga jual ternyata mempengaruhi semangat kerja para petani kita di Bona Pasogit, semakin harga di atas keekonomian, mereka akan semangat bekerja, banting tulang serta tetap memiiki harapan hidup. Namun, sama seperti masyarakat lainnya, mereka harus mendapat jaminan dari pemerintah. Sehingga petani tidak menangis lagi dalam kesunyian.

*Penulis adalah Ketua Umum Forum Bangso Batak Indonesia (FBBI), pemerhati agraria/pertanahan, dan Anggota Jaringan Pemerhati Industri dan Perdagangan (JPIP).

Batak Indonesia (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Facebook (0)

G+ (0)