Sigolang, Desa Kecil Penuh Keunikan

BONAPASOGIT

SIGOLANG, BatakIndonsia.com — Huta Sigolang, satu di antara ribuan nama Desa di Bonapasogit bahkan di Indonesia. Sebuah nama Desa, bagi antardesa bisa jadi tidak akrab, bahkan dengarkan pun tidak. Apakah karena desa itu tidak ada keistimewaannya? Atau karena isolasi transportasi yang membuatnya tidak terkenal? Atau kita yang kurang pengalaman untuk berkunjung ke setiap desa itu? Setiap orang mempunyai jawabannya sendiri-sendiri. Namun yang pasti, setiap desa amatlah dikenal di skala Kecamatan, terlebih pada mereka sebagai warga desa itu, baik yang tinggal di Desa sampai sekarang atau mereka yang merantau.

Bagi mereka yang merantau, ingin supaya desanya menjadi pemicu kerinduan, sebab sebagai tempat kelahiran atau tempat dibesarkan di suatu desa maka nama desa menjadi sebuah magnit yang besar untuk mengenangnya. Nama desa menjadi inspirasi bagi perantau. Nama desa menjadi alat pemersatu, karena sebagai argumen geografis sudah membantu membentuk solidaritas karena sekampung, sama-sama menikmati indahnya kampung bagi mereka seiring usia sejak kecil sampai besar.

Tidak berlebihan jika sebuah komunitas, membuat Desa ini sebagai tali persaudaraan bahkan memberikan penamaan dalam setiap komunitas, marga misalnya. Ambil contoh, Punguan Marga Dongoran boru bere se Sungepining dan Mandalasena. WA Sigolang Nauli, FB Simangambat dan lainnya. Mereka semua memberikan labeling kepada Nama Kampungnya, baik narasi nama bahkan kesan positif ke wilayahnya dengan istilah yang baru, seperti Nauli.

Sekalipun potret kampungnya biasa bahkan jauh dari keindahan yang dikenal secara umum. Nama itu, dimaksudkan menjadikan stimulus bagi setiap penghuninya, untuk berubah dengan citra yang ditabalkan kepada desanya.

Motivasi ini penting sebagai usaha perantau untuk ambil bagian di dalamnya agar di ujung maksud dan tujuannya kemajuan desanya bisa terwujud. Maju dalam arti secara fisik baik infrastruktur, diikuti pertanian, perdagangan dan yang utama rohaninya baik agama dan budayanya.

Itulah poin yang diangkat oleh Forum Bangso Batak Indonesia atau akrab disingkat FBBI, dengan proyek Rekaman lagu sebanyak 12 buah lagu. Salah satunya adalah mengambil nama satu Desa SIGOLANG, dengan terdiri dari Dusun Sigolang dan Sipange, pasca kebijakan Pemerintah untuk regrouping Desa agar lebih ringkas, lebih sedikit agar pelayanan lebih efisien.

Tentu, Sigolang satu dari ribuan tadi, seperti ditullis di awal. Hanya karena kebetulan saja, yang bisa saya rasakan dan tuliskan sebagai anak Sigolang, kebetulan mempimpin FBBI. Maksudnya bukan mengistimewakan Sigolang dari lainnya tidak sama sekali, hanya karena secara langsung, bisa menuangkan dalam lagu, bersama Komponis Batak, Tagor Tampubolon dan dinyanyikan oleh RP sebagai putra Sigolang. Lagu dengan vokal latar belakang oleh Trio: br Silalahi, br Batubara, dan br Tobing dan Tagor Tampubolon sendiri, berusaha supaya lagu ini boleh disenangani oleh Bangso Batak di mana pun berada khususnya di Bonapasogit.

Coba simak syair pertama, “ Huta Sigolang, di aek Bilai, Tarbonggal baritanai, sian naujui, luat angkolai, napudo tano nai, gok kopi, karet dohot Hulimi.”

Desa Sigolang berada di Kecamatan Aek Bila, ibukota: Biru, sempalan Kecamatan Saipar Dolok Hole. Desa ini sejak jaman Jepang sudah terkenal, karena Desa Pendidikan perama, tempat belajar Sekolah Rakyat (jaman Jepang ada namanya) dari Luar sekitarnya, Luat Tolang, Sungepining, Tapus dan Sibio-bio.

Posisinya di simpang lima, artinya ada lima simpang dari pusat Desa Sigolang, yaitu: Tolang, Biru, Ulumamis, Sopagabu/Tapus dan Sipange. Begitu juga posisi Sumber daya agrarianya di lereng dan daratan Bukit Barisan yang penuh kehutanan menjadikan tanahnya selalu subur karena haranya dari dedaunan yang sudah menjadi busuk sama pupuk buatan.

Hasil bumi yang sejak jaman Penjajahan, adalah kopi, karet dan kulit manis. Masih banyak lagi tanaman pokok seperti padi, pinang, kacang, jagung, sayur-mayur dan lainnya. Sekalipun pola penanamannya masih tradisional, hasilnya cukup untuk hidup dan menyekolahkan, masyarakatnya masih tergolong “di bawah garis kemiskinan” ukuran Sayogyo. Walau masyarakat Sigolang merasa mereka tidak miskin, karena ada kecukupan makan dan lauk pauk dari kebaikan alam yang diberikan Tuhan kepada mereka.

Bait kedua, “paradat nang namora, pangisinai, pangula nang parpangkat, gokdo siani”.

Narasi ini menggambarkan Sumber daya manusianya taat adat-istiadat sebab masih berjalan sistem adat dalam mengatur tata kehidupan, di mana Raja Panusunan Bulung (Marga Pasaribu) mampu menjaga harmoni kehidupan yang saling damai rukun serta Pemerintahan Desa yang mengurus administrasi Pembangunan, boleh berjalan saling mengisi. Sekalipun ukuran pembangunan masih terbelakang, tetapi basis kemasyarakat sudah cukup diandalkan, sebagai bagiaan Negara yang berbhineka Tunggal Ika.

Syair refrainnya pesan utama lagu ini, “Marhube, marsipature hutanabe, asa marsada, hita sude, diparadaton, nang di ugamo pe, marsialap ari, diulaonta be.”

Marhube ini program nyata yang menjadi penghubung para perantau dengan masyarakat dengan membangun monumen pilihan yang dapat dibangun dengan cara gotong-royong. Pesan marsada atau bersatu adalah inti kemasyarakatan di Bonapasogit ini. Satu dalam adat, baik yang beragama Islam maupun Kristen bersatu dalam segala acara kemasyarakatan sehingga memudahkan melaksanakan program Marhube.

Sudah tiga kali program MARHUBE ini dilaksanakan, sekali dalam dua tahun secara reguler dan dijadikan momen atau ajang pulang kampung untuk membangun relasi perantau dengan Sigolangnya. Selain itu, Marsialap ari, adalah sebentuk kerjasama yang kompak berbasis gotong-royong. Pendekatan kelompok ini masih relevan saat ini, karena kebersamaan mempercepat selesainya pekerjaan di sawah, kebun dan bangun rumah sekalipun. Sepanjang teknologi mesin belum dilaksanakan, maka kerjasama bekerja, bekerja, dan bekerja ini pilihan terbaik saat ini.

Sebagai narasi penutup, ada di bait ketiga “ Molo hutatap, sian Tiga Dolok, Uli ni Huta Sigolang, di toru Tikka Pangaribuan; dihaliangi Ulumis, Tolang, Biru, Sipange dan Tapus.”

Tiga dolok adalah tempat di atas bukit lepas Ulumamis, yang bisa melihat Indahnya lanescape (pemandangan) Desa-Desa yang ada di atas, di mana Sigolang ada di pusat lingkarannya, sekaligus pemberian nama sekitarnya dimaksudkan agar para Perantau dan yang tinggal di Desa itu, turut memiliki Lagu Sigolang ini sebab Nama Desanya disebut.

Gunung Tikka Pangaribuan, sebuah gunung yang melekat dalam ingatan masyarakat karena berdiri kaku, kokoh, kuat seakan melindungi seluruh masyarakat di bawahnya. Selalu menampakkan kegagahannya, dan konon di sinilah tentara dan masyarakat berlindung saat Pemerintah Pusat menyerang, pergerakan perlawanan pemerintah (PRRI) saat itu. Jauh, di belakang Gunung Tikka ini adalah Desa Sungepining dan Kabupaten Labuhan Batu, Sumatra Utara.

Pesan singkatnya adalah Huta Sigolang, salah satu Desa di Bonapasogit, sebagai obyek yang menjadi tugas kita melalui FBBI, untuk didorong kemajuannya dari segala segi. Pertanian, perdagangan dan lainnya, termasuk kebudayaan, pendidikan (FBBI sudah menyumbang Pustaka dengan 450 judul Buku di Sigolang), dan mendorong pemerintah membangun agar masyarakat tambah maju dan sejahtera secara mandiri. Semangat itu, hendaknya mengubah orientasi membantu kampung halaman melalui Marhube atau Martabe atau dengan istilah masing-masing.

 

BACA JUGA:   HUT Ke-4 FBBI: Di mana Ada Kemauan di Situ Ada Jalan

Penulis: Ronsen Pasaribu (Ketum FBBI)
Editor: Boy Tonggor Siahaan

(Artikel ini ditulis dalam perjalanan Silangit-Jakarta dengan pesawat Sriwijaya pada Kamis, 19 April 2018, pkl. 10.10-11.30 WIB)

Batak Indonesia (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Facebook (0)

G+ (0)